Background

#34 -- Vaksin BCG tidak efektif?

1. Mengapa vaksin BCG yg cukup tinggi cakupannya saat ini masih belum mampu mencegah infeksi TB??? --> Menurut WHO TB merupakan ancaman kesehatan global dengan perkiraan kasus mencapai 8,7 dewasa ini, dan menimbulkan kematian 1,4 juta jiwa per tahun.

JAWAB: Jangan dipelintir budok gigi. Vaksin BCG paling efektif untuk mencegah TB meningitis atau TB milier pada anak, sedangkan untuk mencegah TB paru efektivitasnya bervariasi antara 0-80%, jadi memang tidak kebal 100%. Jadi wajar kalo kasusnya masih banyak dan masih menjadi masalah kesehatan global. Coba kalo disajikannya data tentang efektivitas vaksin BCG untuk pencegahan TB meningitis atau TB milier. Nih Admin kasih jurnalnya ... Dibaca ya budok, ‘kan katanya thinher eh thinker:

- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8144299
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16616560
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16826312
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15628980
- http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16227549

2. Mungkin sudah saatnya tidak berharap pada vaksin semata2 untuk pencegahan. Perbaiki nutrisi, perbaiki sanitasi, perbanyak edukasi.

JAWAB: Bu dokter, usaha untuk menurunkan angka kejadian penyakit infeksi itu harus menyeluruh. Perbaikan nutrisi, sanitasi, edukasi, dan vaksin itu semuanya saling melengkapi, namun tidak saling menggantikan. Kalau logika budokter seperti itu, berarti negara2 maju kayak Eropa Barat dan Amerika harusnya g ada vaksin dong? Kan mereka nutrisi tercukupi, sanitasi terjamin kesehatannya, mau kurang apa lagi? Oleh karena itu, tidak ada satu pun provaks yg berharap pd vaksin semata2. Vaksin hanya salah satu usaha sj. Anak vaksin lengkap tapi malnutrisi tetep sj rentan trhdp penyakit infeksi. Sebenernya aneh jg sih njelaskan hal sederhana seperti ini ke bu dokter.

3. Kesimpulannya vaksin yg sekarang ada belum cukup efektif gitu?? Pantes angka TB pada bayi meningkat ya?? Di mana2 dgr baby kena flek paru, atau TB ... klo jaman dulu jarang bgt yah dgr, paling yg udah aki2 atau yg perokok berat gitu ...

JAWAB: Ciyusss ... Ini salah vaksin BCG? Ato salah guwe? Salah temen-temen guwe? Mbak mbak, namanya juga usaha. Kalo usahanya belum berhasil, ya tetep harus usaha dengan cara lain yang lebih efektif. TB pada bayi biasanya ditularkan oleh penderita TB orang dewasa. Kalo angka TB pada bayi meningkat bisa jadi angka TB pada orang dewasa juga meningkat, pengobatan TB pada orang dewasa yang kurang berhasil, dsb.

Nah, usaha para ilmuwan untuk menekan angka TBC ini ya salah satunya mengembangkan vaksin baru sebagai pengganti vaksin BCG. Ini admin kasih jurnalnya di kanan bawah. Berdasarkan artikel tersebut, sampai saat ini sudah ada 15 kandidat baru vaksin TB yg sudah masuk uji klinis fase 1 dan 2. Teknologi yg digunakan pun bermacam2, tidak hanya bakteri yg dilemahkan sj, tapi juga menggunakan “vector” atau “sub-unit vaccine” utk merangsang respon imun spesifik trhadap TBC. (Jadi ingat “calon dokter” yg katanya vaksin itu terbuat dari darah dan nanah???)

Dari artikel tersebut, setidaknya ada beberapa pesan penting yg harus diketahui:

a) Vaksin terus-menerus di-evaluasi keamanan dan keefektifannya. Kalau memang terbukti kurang optimal, misalnya pada vaksin BCG ini, maka para ilmuwan tidak akan berhenti untuk mencari vaksin baru yg lebih efektif.

b) Namun, vaksin baru ini juga harus melewati tahap uji yg kompleks, karena harus: aman dan efektif. Kalau g efektif (kayak vaksin yg di-uji ini), ya jangan harap bisa dikasih ke bayi. Vaksin “lama” mungkin akan diganti ketika ditemukan vaksin baru yg lebih efektif. Di sini juga ada pelajaran ttg kaidah penting meneliti yaitu: KEJUJURAN. Kalau g terbukti efektif ya laporkan apa adanya, jangan coba2 ngubah2 data.

4. Iya yah..jd kepikiran..kenapa vaksinnya gak di uji cobain ma bayi2/anak2 mereka yg bikin vaksin ajah yak?kenapa harus bayi2 sehat di Afrika?WHYYYY?..kira2 mereka yg PRO ma Vaksin mau gak yah kalo anak2nya jd Volunteer Uji coba Vaksin ini?Mau gak yaaaah???

JAWAB: Lah,,, yg diuji kan “preventive/prophylactic vaccine” bu, yaitu vaksin yg dtujukan untuk pencegahan. Makanya dites pd anak sehat di Afrika. Kenapa Afrika? Lha mau diujikan ke mana? Amerika? Kutub Utara? Lha yang jumlah penderita TB-nya masih banyak daerah mana? Ini nih susahnya kalau yg berpendapat nggak ngerti epidemiologi, dan g ada yg meluruskan (termasuk budok gigi yg posting kok diem aj ada temennya gagal faham begini?) Kalo diujikan di Amerika Serikat sana, kira-kira bisa ga dilihat efektivitas pencegahannya, sedangkan jumlah kasus TB-nya saja sedikit? Mau follow-up berapa puluh tahun kalau diuji di Amerika?

Nah, kalau yg diuji itu “therapeutic vaccine” (vaksin utk pengobatan), barulah diuji pada penderita TBC utk mengetahui bagaimana efektifitas vaksin untuk meningkatkan kekuatan sistem imunitas mengusir kuman TBC yg sudah lamaaa banget bersarang di paru-paru dan tidak bisa diusir sama sistem imun penderita. Aduh,,, jangan2 pd nggak ngerti kalau ada “therapeutic vaccine” ya???

5. Kasian bayi2 ituuuu .... :cry: :?

JAWAB: Lagi, ini nih kalau nggak faham bagaimana uji klinis dilakukan. Jadi membayangkan kalau namanya uji klinis itu seolah2 anak bayi yg dipermainkan kayak binatang. Mungkin nggak pernah tahu (apalagi mengalami sendiri) susahnya mendapatkan ijin untuk melakukan uji klinis. Untuk uji klinis fase satu saja, yg notabene jumlah subjeknya terbatas, bisa 1-2 tahun mengurus ijinnya di Komite Etik (Kok jadi inget dosen antivaks yg seenaknya melakukan penelitian tanpa persetujuan Komite Etik ya???). Harus bisa menjelaskan manfaatnya, risikonya terhadap subjek, termasuk risiko ke lingkungan sekitar (jika ada), antisipasi hal2 yg tidak diinginkan bagaimana, de el el. Bahkan, ada uji klinis fase 2 yg selama 2 tahun lebih hanya berkutat masalah perijinan ini di Komite Etik. Bandingkan dengan “uji klinis” ala USA yg langsung nyuntikkan minyak habbatus sauda ke pembuluh darah sendiri. Siapa yg ngawasi? Anda mau jadi subjek penelitiannya USA?

Gan, admin tidak melarang agan-agan sekalian berpikir kritis, tapi ya kl memang gagal paham, jangan kumpul bocah begini Gan. Silahkan tanya sama yg lebih ngerti, yg lebih ahli, jgn malah saling bikin gagal paham kayak yg diskrinsut ini ... Jadinya ini ni Gan, gagal paham tingkat galaksi.

Reference:

Parida SK, Kaufmann, SHE. 2010. Novel tuberculosis vaccine on the horizon. Curr. Op. Immunol. 22: 374-84.

Categories: , ,