dikutip dari : http://www.facebook.com/notes/annisa-karnadi/vaksinasi-renungan-panjang-sebuah-kebimbangan/10150909024277548
Q: Apakah vaksin menyebabkan kanker?
Sebagai manusia saat kita mendengar kata “kanker” tentu saja takut ya, karena langsung terbayang penyakit yang berat.
Kanker telah lama dikenal dalam sejarah manusia. Kanker payudara telah tercatat di lembaran papirus bangsa Mesir pada tahun 3000 SM. Hippocrates yang hidup pada tahun 460 – 370 SM juga telah menjelaskan tentang penyakit ini. Celcus, ilmuwan Yunani, yang hidup antara tahun 25 SM – 50 M juga telah membuat catatan tentang kanker. Istilah kanker sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepiting. Insidensi (kejadian) kanker sendiri meningkat semakin banyak pada tahun 1930 – 1990. Kematian dengan penyebab kanker yang cukup banyak ini akhirnya mulai dicatat secara khusus oleh biro statistika Amerika Serikat pada tahun 1930.
Vaksinasi sendiri baru digalakkan oleh WHO pada 1 Januari 1967 untuk menanggulangi wabah cacar variola (smallpox) yang menyebabkan kematian 35% penderita cacar variola dan sisanya buta atau mengalami kerusakan kulit yang sangat parah. Nah, sangatlah tidak mungkin vaksinasi menyebabkan kanker karena kanker sudah banyak bermunculan ribuan tahun sebelum program vaksinasi digalakkan di dunia.
Kanker sendiri penyebabnya ada dua, yaitu genetik (faktor bawaan) dan lingkungan. Faktor lingkungan sendiri salah satunya adalah infeksi. Justru vaksinasi terbukti bisa menyelamatkan dari kanker, seperti vaksinasi hepatitis B sesaat setelah bayi baru lahir akan mencegah terjadinya kanker hati saat bayi dewasa. Infeksi virus hepatitis B yang diderita sejak bayi 90% akan mengakibatkan hepatitis kronis yang merupakan penyebab terjadinya sirosis. Sebanyak 50% kasus sirosis akan berkembang menjadi kanker ganas pada liver.
Pada tahun 2012, di depan konferensi asosiasi peneliti kanker Amerika dipresentasikan makalah yang sangat menarik tentang pemberian vaksin pada anak dengan kanker otak ganas membantu anak memberikan respons bagus terhadap perbaikan penyakitnya. Sel imun anak yang mendapat vaksin tampak bereaksi sangat baik terhadap sel kanker di otak. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan isu yang mengatakan vaksin mengakibatkan kanker, karena justru yang terjadi adalah vaksin membantu sel imun memusnahkan sel kanker.
Sumber:
Kumar et al. 2008. Robbins Basic Pathology, 8th edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
Fauci et al. 2008. Harrisons: Principples of Internal Medicine, 17th edition. McGraw-Hills companies
Goldman et al. 2007. Cecil Medicine, 23th Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
Casiato, Dennis A. 2004. Manual of Clinical Oncology, 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Q: Benarkah vaksin menyebabkan HIV?
HIV adalah penyakit yang snagat mengerikan. Pada tahun 1981 saat pertama kali ditemukan penyakit HIV AIDS pada kaum homoseksual kemudian pecandu penyalahgunaan obat, orang bertanya-tanya darimanakah asal penyakit yang mengerikan ini. Banyak isu spekulatif seputaran penyakit ini dan pada tahun 1990-an salah satu yang dicurigai adalah vaksin polio oral sebagai penyebar penyakit ini. Pada tahun 1950-an para ilmuwan mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk memperoleh media pertumbuhan virus. Salah satunya dr. Hilary Koprowski yang mengembangkan cell line berasal dari kera macaque. Cell line tersebut diduga tercemar oleh virus SIV (simian immunodeficiency virus) yaitu virus menyerang simpanse.
Pada tahun 1992 majalah The Rolling Stone menampilkan artikel yang mendiskusikan kemungkinan vaksin polio Koprowski sebagai sumber penyebaran HIV yang akhirnya mengakibatkan munculnya AIDS. Dokter Koprowski menggugat The Rolling Stone dan si penulis artikel sehingga pada December 1993, majalah The Rolling Stone membuat permintaan maaf dan klarifikasi atas pemberitaan tidak benar yang mencemarkan nama dokter Koprowski.
Artikel tersebut bermula dari seorang jurnalis yang bernama Edward Hooper menulis sebuah buku yang berjudul “The River: A Journey to the Source of HIV and AIDS” pada tahun 1999. Hooper menuduh bahwa cell line yang digunakan untuk pengembangan vaksin polio itu berasal dari sel ginjal simpanse yang terinfeksi SIV. Untuk meredam kehebohan yang terjadi, dilakukanlah penyelidikan yang mendalam dan hasilnya dibuktikan bahwa teori Hooper ini tidak benar:
1. Dilakukan pemeriksaan terhadap sisa vaksin yang digunakan dan tidak terbukti adanya kontaminasi virus SIV pada vaksin.
2.Cell line yang digunakan untuk memproduksi vaksin berasal dari kera, bukan simpanse. Spesiesnya asal cell line-nya saja jelas berbeda. Setiap virus memiliki sel target yang spesifik. Beda spesies berbeda jenis selnya sehingga si virus SIV tidak bisa menginfeksi sel tersebut.
3.Strain virus SIV ini secara genetika sangat berbeda dengan strain virus HIV yang terdapat di daerah tersebut.
Tulisan Hooper ini menyebabkan maraknya teori konspirasi terkait HIV dan vaksin polio, terutama di Afrika. Isu adanya virus HIV dan obat yang mengakibatkan steril pada vaksin polio menyebabkan banyak yang menolak vaksinasi polio di Afrika. Akibatnya kejadian polio di Afrika tetap tinggi.
Ada 2 jenis virus HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2, yang paling banyak ditemui di seluruh dunia adalah virus HIV-1. Virus HIV-2 banyak ditemukan di Afrika. Virus HIV ini memang diperkirakan berkembang dari virus yang dahulunya menginfeksi simpanse (cross-species infection). Kemungkinan terjadinya infeksi silang antar-spesies karena telah terjadi kontak langsung antara manusia dengan simpanse yang terinfeksi yang menghasilkan mutasi genetik munculnya virus HIV.
Sumber:
Fauci et al. 2008. Harrisons: Principples of Internal Medicine, 17th edition. McGraw-Hills companies
Brooks et al. 2007. Jawetz, Melnick & Adelberg Medical Microbiology. 24th edition. McGraw-Hills companies.
Fields et al. 2001. Field’s Virology. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Q: Benarkah vaksin adalah konspirasi Yahudi untuk melumpuhkan generasi lain? Benarkah vaksin digunakan sebagai senjata biologis pemusnahan massal?
Sejak WHO mencanangkan program imunisasi untuk eradikasi penyakit infeksi berbahaya hampir semua negara mewajibkan imunisasi untuk semua bayi yang lahir di daerahnya. Ada 194 negara yang memiliki program imunisasi. Beberapa negara menggunakan kelengkapan jadwal imunisasi sebagai persyaratan masuk sekolah. Di Arab Saudi dan beberapa negara timur tengah kelengkapan imunisasi dijadikan syarat untuk bersekolah dan mengambil akta kelahiran.
Program imunisasi wajib di masing-masing negara berbeda bergantung pada sebaran penyakit yang ada. Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, vaksin BCG tidak ada karena mereka telah berhasil mengeradikasi TBC sebelum arus globalisasi meningkat seperti dewasa ini. Di Belanda memang aturan diperlonggar dengan alasan menghormati hak asasi para penganut anti-vaksin. Di Inggris jika anak yang tidak divaksinasi sakit dan menularkan penyakit ke teman-teman mereka di sekolah maka orang tua si anak akan dipenjara.
Lalu apa kabar negara yahudi israel yang sering dituduh makar vaksinasi? Israel memiliki program vaksinasi yang sangat lengkap dan berhasil dengan angka cakupan sangat tinggi untuk bayi baru lahir hingga anak usia 13 tahun. Dari artikel yang dibuat oleh Kementrian Kesehatan dan dirilis di jurnal ini diperoleh data cakupan imunisasi di israel > 90% semua, yaitu sebagai berikut DTaP-IPV-Hib4 (all 93%), HBV3 (96%), MMR1 (94%), and HAV1 (90%). Sebanyak 93% bayi mendapat vaksin difteri, tetanus, pertusis, polio dan hemofilus influenzae B; sebanyak 96% bayi mendapat vaksin hepatitis B; sebanyak 94% bayi mendapat vaksin campak, gondongan dan rubella; dan sebanyak 90% bayi mendapat vaksin hepatitis A. Pada tahun 2009 mereka memulai program vaksinasi pneumokokus, pada tahun 2010 mereka memulai vaksinasi rotavirus dan pada tahun 2011 mereka memulai vaksinasi human papilloma virus untuk anti kanker leher rahim (serviks). Kenapa angkanya tidak 100%? Karena pada bayi dengan penyakit tertentu seperti defisiensi sistem imunitas, kanker atau penyakit darah ada yang sebaiknya vaksinasi ditunda terlebih dahulu.
Jika vaksin mengandung racun, zat berbahaya dan berpotensi membuat mandul, cacat atau mematikan generasi penerus, maka tidak akan mungkin israel menyediakan program vaksinasi yang super lengkap seperti di atas untuk semua bayi sehat yang lahir di negara tersebut. Kabar baiknya adalah pejuang Muslim Palestina juga memvaksin anak-anaknya agar tumbuh menjadi generasi yang sehat tidak kalah dengan bayi-bayi yahudi di Israel. Muslim Mesir tanah tempat kelahiran pejuang-pejuang tangguh yang berani menolong saudaranya di Gaza juga memiliki vaksin wajib yang ditaati oleh warga negaranya.
Jika di dalam vaksin terdapat obat kemandulan buktinya yang terjadi di Indonesia, negara-negara berkembang dan dunia jumlah penduduk bertambah dengan pesat.
Sumber:
Vaksinasi di israel:
Vaksinasi di Palestina: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19554974
Vaksinasi di Mesir: http://apps.who.int/immunization_monitoring/en/globalsummary/countryprofileresult.cfm?C=egy
Vaksinasi di Saudi Arabia: http://apps.who.int/immunization_monitoring/en/globalsummary/countryprofileresult.cfm
Vaksinasi di Amerika:
Vaksinasi di Inggris:
Q: Apakah vaksin menyebabkan anak lumpuh dan meninggal setelah divaksin?
KIPI adalah kejadian ikutan pasca imunisasi. Biasanya setelah diimunisasi bisa timbul demam, kemerahan atau bengkak di tempat penyuntikan, rewel, dan lain sebagainya sesuai jenis vaksin. Sebagian besar keluhan ini akan menghilang 3 – 4 hari pasca imunisasi. Semua KIPI memang sebaiknya dilaporkan untuk kepentingan surveilans imunisasi.
KIPI berat seperti lumpuh setelah diimunisasi atau meninggal setelah diimunisasi akan diselidiki dengan sangat serius oleh dinas kesehatan dan pihak yang berwajib dengan melibatkan banyak ahli seperti ahli forensik, ahli darah, ahli bedah, ahli anak, ahli penyakit dalam, ahli vaksin, ahli hukum, kepolisian dan banyak ahli lainnya. Tenaga kesehatan yang terlibat juga dikenai status tahanan rumah atau kota. Kasus ini biasanya akan mencuat di media massa yang tentu saja dengan pemberitaan yang tidak seimbang, selalu pihak pemerintah yang disudutkan. Sangat sering kasus yang ada tidak disertai dengan pemberitaan klarifikasi dari dinas kesehatan terkait.
Contoh kasus berikut ini, bayi A meninggal sehari setelah vaksin BCG, setelah diselidiki ternyata bayi sudah sakit infeksi berat sebelumnya dan meninggal akibat sepsis (keracunan darah), tapi jika membaca beritanya memang sangat berat sebelah. Kisah lain, yaitu SB yang lumpuh setelah divaksin polio setelah disidang di Polda Metro Jaya lalu diselidiki ternyata SB ini adalah penderita TBC tulang belakang yang sudah berat. Di Jawa Barat anak lumpuh karena polio setelah diselidiki ternyata dia terkena virus polio liar, bukan virus polio dari vaksin. Sebagian besar kasus KIPI yang dilaporkan bisa ditangani secara tuntas, hanya saja masyarakat tidak mengikuti kasus hingga akhir. Jika ada yang tidak ditangani, maka kemungkinan besar karena kasus tidak dilaporkan.
Kasus KIPI perlu diselidiki apakah itu disebabkan karena vaksinasi atau coincidental. Concidental ini adalah berbarengan ditakdirkan muncul bersamaan dengan vaksinasi, seperti contoh ketiga kasus di atas yang seteah diselidiki ternyata penyebabnya adalah karena penyakit lain. Jika karena vaksinasi, maka akan diselidiki apakah karena kesalahan dalam vaksin (vaccine error), kesalahan pelaksanaan imunisasi (programme error), atau reaksi terkait penyuntikan.
Semua kasus KIPI akan mendapatkan penanganan dan kompensasi dari pemerintah, orang tua bisa menuntut negara atas kejadian ini. KIPI vaksin polio oral yang paling berat adalah kelumpuhan (paralisis), kejadiannya 1 : 2,5 juta – 3 juta dosis. Kasus ini biasanya terjadi pada anak dengan penyakit kelainan darah dan gangguan berupa kelemahan imunitas tubuh. Adalah John Salamone, seorang orang tua yang luar biasa dari seorang anak yang terkena KIPI vaksin polio oral. Anaknya mengalami sindroma paralisis setelah mendapat vaksin polio, namun alih-alih memilih menjadi aktivis gerakan antivaksin beliau lebih memilih untuk mendorong pemerintah (American Academy of Pediatrics dan the CDC) untuk mengganti vaksin polio oral dengan vaksin polio injeksi. Dan beliau berhasil, pada tahun 1996 pemerintah Amerika mengganti vaksin polio dengan jenis lain yang lebih aman meskipun itu berarti pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih besar untuk vaksin ini. Sebab John menyadari bahwa vaksin polio ini penting dan perlu, apalagi virus poliomyelitis belum musnah (eradikasi). Jika terjadi wabah polio kemungkinan lumpuh adalah 1:100 penderita dan tidak milih-milih mau anak yang semula sehat atau yang immunocompromaise (sistem imunnya lemah).
Kejadian KIPI yang berbahaya ini relatif sedikit, dan tidak ada orang yang menginginkannya. Apalagi pihak tenaga kesehatan, jika sampai terjadi KIPI berat mereka juga akan diusut oleh pihak berwajib. Dibandingkan resiko tingkat kecacatan, biaya perawatan dan kematian yang tinggi akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin maka sebaiknya tetap melakukan vaksinasi yang merupakan salah satu ikhtiar terbaik untuk menghindari penyakit tersebut.
Sumber:
Q: Benarkah vaksin akan merusak sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit?
Isu ini berkembang akibat adanya suntikan vaksin combo, yaitu dalam 1 suntikan terdapat > 2 jenis antigen (vaksin).
Beberapa pihak menantang untuk diadakan penelitian yang membandingkan kualitas anak yang divaksin dengan anak yang tidak divaksin. Jika ada dua kelompok anak (divaksin vs tidak divaksin) kemudian ditempatkan di ruangan dengan penyakit polio, TBC, pertusis, difteri, campak, dan lainnya, hal ini tidak etis karena menempatkan posisi anak yang tidak memiliki kekebalan tubuh dalam zona bahaya. Penelitian semacam ini tidak akan pernah lolos mendapatkan ijin dari Komite Etik. Setiap penelitian yang dilakukan seorang akademisi itu wajib dibawah koridor etika keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan dan diawasi oleh Komite Etik yang terdiri dari para ahli.
Namun, ada penelitian yang menarik yang dilakukan di Jerman yang membandingkan kualitas kesehatan anak yang mendapat vaksin dengan anak yang tidak divaksin dengan sampel penelitian 13.453 anak. Penelitian ini diterbitkan di jurnal Deutsches Ärzteblatt International | Dtsch Arztebl Int 2011; 108(7): 99–104. Hasilnya? Ternyata penyakit infeksi yang tidak spesifik seperti batuk pilek dan penyakit alergi kejadiannya sama pada kedua kelompok. Pada kelompok anak yang tidak divaksin terdapat kejadian penyakit infeksi tidak spesifik dan penyakit alergi.
Vaksin adalah ikhtiar untuk membentuk kekebalan spesifik seperti vaksin polio untuk penyakit polio. Pada penelitian tersebut hasilnya ternyata mendukung keamanan vaksin karena anak-anak yang tidak divaksin tiga kali lebih banyak menderita penyakit campak, gondongan, rubella dan pertusis dibandingan anak yang divaksin. Sebagai informasi di Jerman sudah tidak pernah ditemukan kasus lokal TBC dan polio.
Jadi, isu bahwa vaksin merusak sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit itu tidak benar, karena pada anak yang tidak mendapat vaksin pun juga dijumpai kasus infeksi tidak spesifik seperti batuk pilek dan serta penyakit alergi.
Sumber:
Q: Jangan dengarkan nasehat dokter, mereka dibayar sama pabrik vaksin! Benarkah?
Program vaksinasi yang berhasil adalah vaksinasi cacar variola (smallpox). Penyakit ini sangat menular. Penularan penyakit melalui udara pernafasan, jadi tidak perlu bersentuhan dengan penderita sudah bisa tertular. Jika sampai sakit, efek yang paling ringan adalah wajah menjadi buruk rupa permanen; efek moderat adalah hidup dengan wajah buruk rupa + buta; dan sebanyak 30 - 35% penderita variola langsung meninggal dunia.
Hidup di jaman serba susah seperti ini segalanya memang seolah-olah berkiblat pada uang. Memang budaya neokapitalisme telah menjamur berurat berakar dimana-mana, termasuk di fasilitas kesehatan. Bisnis kesehatan adalah bisnis dengan omzet yang besar. Mari kita berhitung, lebih menguntungkan mana sih dokter mau capek-capek sosialisasi pentingnya vaksinasi agar penyakit musnah (eradikasi) seperti smallpox atau merawat pasien yang sakit macam difteri, pertusis, campak, tetanus, TBC, meningitis, polio itu?
Jika dokter berdagang vaksin paling keuntungannya hanya beberapa puluh ribu hingga ratusan ribu.
Jika dapat pasien difteri, pertusis, campak dan lainnya kira-kira untung berapa ya? Pasien ini adalah kategori pasien sangat menular sehingga harus dirawat di ruang khusus, dengan barang-barang sekali pakai termasuk kasur, bantal, selimut; dengan perawat khusus, belum lagi obat-obatan dan diet khusus. Pasien difteri atau pertusis biasanya dirawat selama 2 minggu. Biaya perawatan sehari bisa mencapai minimal 2 juta, jadi 2 juta x 14 hari = 28 juta! Pernah ada pasien difteri sehari habis 2,5 juta dan dirawat 2 minggu. Dokter dan nakes yang merawat pasien infeksius seperti di balai pengobatan penyakit paru atau rumah sakit khusus infeksi biasanya mendapatkan komisi tambahan sebagai pengganti risiko tertular.
Pasien tetanus dan meningitis biasanya dirawat di Intensive Care Unit. Dulu bayi saya waktu lahir kakinya agak kebiruan sehingga dirawat di NICU. Di NICU bayar 3 juta/hari, itupun Al hamdu lillah bayi saya hanya nebeng pake oksigen. Nah, pasien tetanus dan meningitis bisa lebih dari 1 bulan perawatannya, obat-obatan yang digunakan luar biasa mahal. Jika sembuh dalam 1 bulan saja, maka 3 juta x 30 hari = 90 juta!
Pasien polio lebih parah lagi, selain di rawat secara intensive di ruang isolasi mereka harus rajin fisioterapi agar kelumpuhan yang di derita tidak begitu parah dan kaki mereka tidak bengkok. Asumsi perawatan seperti pasien difteri 2 juta x 14 hari = 28 juta ditambah biaya fisioterapi rutin yang sekali fisioterapi 100 ribu minimal 1 kali seminggu dan pembelian peralatan fisioterapi hingga 1 tahun, berapa kira-kira dana yang diberikan ke rumah sakit?
Pasien hepatitis B jika sampai terjadi hepatitis kronis harus konsumsi obat secara rutin hingga DNA virus hepatitis B menurun, 1 butir obatnya jaman saya masih sekolah dulu harganya 200 ribu. Jika terkena sirosis seperti pak mentri harus cangkok liver di China konon membutuhkan dana 2 milyar. Jika terkena kanker hati, kemungkinan tertolong kecil karena hepatocellular carcinoma ini sangat ganas. Kanker hati akibat bayi terlahir dari ibu yang positif hepatitis B biasanya akan muncul saat anak berusia 20-an tahun.
Untuk pabrik vaksin? Jika program vaksinasi berhasil seperti program vaksinasi smallpox dari tahun 1967 – 1979 menghasilkan smallpox yang musnah (eradikasi), vaksin smallpox tidak dibutuhkan lagi jadi perusahaan vaksin gulung tikar. Untuk saat ini wabah polio, difteri, campak, pertusis muncul lagi akibat aksi menolak vaksinasi yang marak di beberapa daerah. Jadi bisa dipastikan perusahaan vaksin akan tetap berproduksi hingga 20 tahun ke depan. Jika terjadi wabah seperti polio di Jawa Barat tahun 2005 kemarin dan tetanus saat gempa Jogja yang lalu perusahaan vaksin kembali banjir order untuk vaksinasi tambahan, maka semakin banyak penyakit semakin untung bagi pabrik vaksin. Tapi, jika penyakit musnah maka vaksin tidak diproduksi lagi sehingga perusahaan rugi besar.
Jadi, bagi perusahaan vaksin dan dokter kira-kira lebih untung yang mana ya?
Q: Buat apa vaksinasi, toh wabah sudah tidak pernah terjadi lagi
Wabah sudah ada dari jaman dahulu, pada masa Rosululloh pun juga terjadi wabah oleh karena itu ada hadits berkenaan dengan wabah dan penyakit menular. Sahabat agung Abu Ubaidah ibnul jarrah, meninggal karena wabah tha'un di syam. Beliau kita yakin pasti menjaga diri, baik makanan yang tahyyib dan halal, zaman itu belum ada MSG dan pengawet dan amalnya insyaAllah baik karena beliau adalah "amin hadzihil ummah"/ kepercayaan umat ini dan telah di jamin masuk surga.
Vaksinasi, sebagaimana teknologi buatan manusia lainnya, memang tidak 100% aman dan 100% efektif. Namun hingga saat ini vaksinasi adalah teknologi di dunia kesehatan yang terbaik sebagai ikhtiar untuk memusnahkan (eradikasi) penyakit infeksi.
Fungsi vaksinasi untuk individu adalah membentuk sel memori spesifik (polio ya untuk polio) yang berumur panjang. Sel memori ini fungsinya sebagai provokator, jika suatu saat ada musuh masuk dia akan memprovokatori kerja sistem imun dan membentuk antibodi dalam waktu jauh lebih cepat daripada anak yang tidak memiliki sel memori. Kebetulan musuh-musuhnya itu jenis kuman yang ganas, yang jika tidak segera ada antibodi mereka akan memporakporandakan tubuh. Saat kita beri sel memori melalui vaksinasi ibaratnya kita bekali anak kita yang mau maju perang dengan detektor musuh dan rudal jelajah, tentu saat perang akan lebih menang daripada anak yang telanjang tangan (tidak bersenjata-red). Jadi saat wabah datang anak yang divaksinasi lengkap sesuai jadwal dan booster biasanya akan tidak sakit, jika sakit pun hanya gejala ringan.
Fungsi vaksinasi untuk masyarakat adalah membentuk kekebalan imunitas (herd immunity) dan pemusnahan kuman (eradikasi). Cacar variola dinyatakan musnah pada tahun 1980 karena 67% penduduk di seluruh dunia mau divaksin variola. Vaksinasi bukanlah teknologi dengan jaminan 100%, oleh sebab itu, cakupan vaksinasi diharapkan > 90% artinya harus lebih 90% warga mau divaksin agar tercapai kekebalan komunitas sehingga penyakit bisa musnah (eradikasi).
Benarkah saat ini wabah sudah tidak ada? Karena banyaknya provokasi isu menakutkan tentang vaksinasi, banyak orang memutuskan untuk tidak memvaksin anak-anaknya sehingga herd immunity rusak. Saat ini banyak wabah kembali bermunculan. Bahkan Bordatella pertusis pun bangkit dari kuburnya.
Pada tahun 2005, sebanyak 302 anak-anak Indonesia yang belum divaksinasi lumpuh akibat terserang virus polio. Selama 10 tahun sebelumnya kasus polio sudah tidak ditemukan lagi di Indonesia, namun kemudian muncul KLB di Jawa Barat.
Sepanjang tahun 2011 ini jumlah kasus difteri yang terjadi di Jawa Timur ada sekitar 328 orang dan yang meninggal jumlahnya 11 orang. Diduga wabah ini terjadi karena banyak bayi yang tidak mendapatkan imunisasi DPT (difteri, pertusis/batuk rejan dan tetanus). Dari penyelidikan yang terkena adalah anak yang belum divaksinasi dan anak yang divaksin namun tidak lengkap. Jadi karena isu menakutkan terkait vaksinasi banyak orang tua yang tidak meneruskan pemberian vaksin ke anak. Jika vaksinasi tidak lengkap tentu saja perlindungannya pun tidak terbentuk optimal.
Indonesia terletak di ring of fire (cincin gunung api aktif) dan pertemuan 3 lempeng benua, masih teringat jelas kejadian tsunami Aceh dan gempa Jogja-Jateng lalu. Sistem penanggulangan bencana belum siap untuk mengatasi bencana saat itu. Di Jogja ribuan orang meninggal dan sangat banyak yang terluka seperti kulit dan daging terkoyak atau patah tulang. Saat itu rumah sakit setempat yang juga porak-poranda terkena dampak gempa kehabisan cairan antiseptik dan benang untuk menjahit sehingga pasien terpaksa dijahit menggunakan benang jahit pakaian. Banyak tetanus yang terjadi, terutama kelompok usia lanjut yang belum pernah mendapat vaksin tetanus. Mereka saat itu meninggal bukan karena gempa melainkan karena tetanus pasca terluka akibat gempa. Saat itu guna mencegah perluasan kasus tetanus Menkes mengirim 400.000 vaksin tetanus ke Jogja dan sekitarnya. Begitu sering bencana alam besar melanda negri indah ini, jadi kita sama sekali tidak tahu apa yang terjadi nanti.
Jangan terkecoh dengan berita-berita menakutkan, dunia semakin tua dan permasalahan jaman semakin pelik. Banyak pihak demi kepentingan pribadi menggunakan kampanye hitam anti-vaksinasi. Gerakan ini mendunia. Kenapa vaksin yang dijadikan kambing hitam? Menurut teori konspirasi ala saya yang maniak komik detektif ini (halah), selama ini timbul persepsi berlebihan di masyarakat bahwa vaksin akan “memberi perlindungan seumur hidup”. Nah, jika vaksin digembar-gemborkan mengandung bahaya bagi kemanusiaan maka otomatis para orang tua akan menolak vaksin. Orang tua akan galau, mereka butuh “sesuatu-pengganti-vaksin” yang akan memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka. Kemudian tiba-tiba ada yang muncul menawarkan solusi pake ini, pake itu, beli ini, beli itu, pelatihan begini, pelatihan begitu dan lain sebagainya.
Kesimpulannya:
Vaksinasi itu mubah dalam agama Islam dan sangat dianjurkan oleh pemerintah dan WHO.
Tidak vaksinasi juga boleh.
Namun, tidak vaksinasi lalu menjadi provokator menakut-nakuti masyarakat awam dengan ilmu yang salah itu yang tidak benar.
Al hamdu lillah, tuntas sudah kebimbangan kami. Semoga ringkasan yang panjang dari data-data yang telah kami peroleh ini bisa membantu para orang tua yang juga bimbang seperti kami.
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisa: 83]
Tafsir ayat di atas:
“Ini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas] tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikan perkara tersebut kepada Rasulullah dan [pemerintah] yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuwan, peneliti, penasehat, dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya] atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya. [Taisir Karimir Rahman hal. 170, Daru Ibnu Hazm, Beirut, cetakan pertama, 1424 H]
Allaahu a'lam bish-showwab
Penulis : Dr. Widodo Judarwanto Sp.A
Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti.
Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.
Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya.
Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal.
Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi :
1. Imunisasi tidak aman. Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .
2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.
3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin. Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate.
4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme. Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.
5. Imunisasi sebabkan autisme. Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman.
Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik.
The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme.
6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme. Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.
Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme.
7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ? Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.
8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan? Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi
9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat. Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna.
10. Vaksin mengandung lemak babi ? Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.
11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ? Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam
12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah? Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.
13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ? Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.
14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ? Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.
15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya? Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.
16. Program imunisasi gagal? Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika.
17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ? Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.
18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ? Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.
20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya. Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam
* Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.
* Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.
* Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).
* Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya.
* Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.
supported by :
CHILDREN GRoW UP CLINIC Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar http://childrengrowup.wordpress.com
dikutip dari : http://health.kompas.com/read/2012/05/17/14501446/20.Mitos.Kampanye.Hitam.Anti.Imunisasi
Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti.
Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.
Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya.
Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal.
Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi :
1. Imunisasi tidak aman. Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .
2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.
3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin. Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate.
4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme. Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.
5. Imunisasi sebabkan autisme. Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman.
Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik.
The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme.
6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme. Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.
Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.
Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme.
7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ? Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.
8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan? Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi
9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat. Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna.
10. Vaksin mengandung lemak babi ? Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.
11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ? Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam
12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah? Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.
13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ? Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.
14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ? Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.
15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya? Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.
16. Program imunisasi gagal? Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika.
17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ? Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.
18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ? Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.
20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya. Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.
Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam
* Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.
* Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.
* Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).
* Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya.
* Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.
supported by :
CHILDREN GRoW UP CLINIC Yudhasmara Foundation Inspirasi Orangtua Cerdas, Tumbuhkan Anak Semakin Sehat, Kuat dan Pintar http://childrengrowup.wordpress.com
dikutip dari : http://health.kompas.com/read/2012/05/17/14501446/20.Mitos.Kampanye.Hitam.Anti.Imunisasi
Q: Apakah vaksin itu halal?
Isu kehalalan
vaksin dipertanyakan sebab adanya enzim tripsin babi yang digunakan sebagai
katalisator. Sebagai seorang Muslim yang diwajibkan menjaga diri dari barang
haram sekaligus dokter yang memahami pentingnya vaksinasi tentu saja isu
ini sangat meresahkan saya. Alhamdulillah banyak ustadz yang berkompeten di
bidang agama dengan pemahaman yang benar dan ilmu kedokteran yang mendalam.
Berikut rangkuman dari data yang saya miliki terhadap status vaksin dimata
syariat.
Menanggapi
penggunaan unsur babi dalam vaksin, ulama ada dua pendapat, yaitu:
1. Para ulama yang menganut madzhab Syafi’iyyah
melarang penggunaan unsur dari babi, namun jika kondisinya darurat dan tidak
ada alternatif lain maka hukumnya mubah. Larangan ini berdasarkan al qur’an
dalam ayat Q.S 2: 173, 5: 3, dll
2. Para ulama yang menganut madzhab Hambaliyah
tidak mempermasalahkan dengan berpedoman pada kaidah fiqih yang disebut
ISTIHALAH, yaitu menghalalkan bahan yang semua haram karena telah berubah
sifat. Enzim tripsin berbeda dengan daging babi, sehingga ulama-ulama tidak
mempermasalahkannya.
Ibnul Qayyim
berpendapat, “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka
hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni
dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin
benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda
suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan
tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil
benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal
hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.” [15]
Bisa kita ambil
contoh benda yang tadinya halal menjadi haram seperti beras berubah menjadi
sake atau makanan yang menjadi kotoran. Sementara itu contoh benda haram
menjadi halal seperti kotoran dan kencing binatang berubah menjadi biogas atau
nira kelapa difermentasi menjadi tuak (khamr) lalu berubah lagi menjadi cuka.
Sifat benda sekarang yang menjadi patokan bukan benda asalnya.
Dalam salah satu
kaidah fiqih disebutkan bahwa, "Mendapatkan manfaat yg lebih besar itu
lebih utama utk dilakukan daripada meninggalkan madlorot yg lebih kecil."
Contoh aplikasi
kaidah ini adalah:
Kasus ekstrim,
dimana kita terdampar di sebuah pulau dan tdk ada makanan selain babi, maka
kita diijinkan memakan babi tersebut selama kita sekedar mempertahankan hidup,
tidak menginginkannya, dan tidak melampaui batas. Jika ada bahan makanan lain,
maka kita harus memilih yg lebih halal.
Rujukan kasus
darurat ini adalah QS. Al Baqoroh (2):173. Batasan darurat itu:
a. Tidak ada bahan
makanan yang lain
b. Sekedar untuk
menyambung hidup
c. Tidak
berlebihan, tidak menikmati, tidak menginginkannya
d. Jika ditemukan
bahan lain yang lebih halal, maka HARUS memilih yang lebih halal, dan bahan
haram tadi HARUS ditinggalkan.
Syaikh Abdul Aziz
bin Baz rahimahullah [sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/238]
dan Majelis Ulama Eropa [Disarikan dari http://www.islamfeqh.com/Forums.aspx?g=posts&t=203]
memperbolehkan vaksinasi jika mengkhawatirkan tertimpa penyakit akibat
wabah-wabah atau sebab lainnya. Dan di antara tujuan syari’at adalah menggapai
maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.
Ada kaidah begini:
siapa yang percaya mutlak kepada sebab dia syirik, siapa yang tidak percaya
mutlak kepada sebab dia kufur.
Misal: orang yang
percaya 100% bahwa vaksinasi PASTI melindungi anak dari penyakit lupa bahwa
Allah lah yang menurunkan penyakit, sehingga tidak pernah berdoa kepada Allah
minta perlindungan dari penyakit (karena 100% mengandalkan vaksinasi) maka dia
syirik. Sudah menuhankan vaksinasi.
Sebaliknya: orang
yang tidak mau berikhtiar sama sekali, termasuk tidak mau vaksinasi, tidak mau
berobat, dll karena tidak percaya mutlak kepada sebab dan hanya bilang bahwa
saya percaya akan takdir Allah, kalo ditakdirkan sakit ya pasti sakit, kalo
sehat ya pasti sehat, sama dengan paham fatalistik, maka dia sudah kufur (Al
Islam, Said Hawwa).
Di Indonesia hanya
ada 3 vaksin dengan tripsin babi yaitu meningitis, polio injeksi dan rotavirus.
Sementara vaksin meningitis produksi China dan Italia telah mendapatkan label
halal dari MUI. Untuk vaksin polio bisa dipilih polio oral (OPV) apalagi
Indonesia belum dinyatakan bebas polio. Vaksin rotavirus bisa digunakan
produksi Jepang yang menggunakan kelinci.
Proses pembuatan
vaksin berbeda dari pembuatan obat puyer dimana semua bahan dicampur dalam satu
wadah lalu digerus bersamaan sehinggi semua bahan tercampur. Proses pembuatan
vaksin skala industri menggunakan industrial plants yang kompleks dan
terintergrasi. Produksi vaksin meliputi tahap sebagai berikut:
a. Produksi seed
(parent seed, master seed, dan working seed)
b. Fermentasi
working seed
c. Isolasi antigen
vaksin
d. Purifikasi
(pemurnian) polisakarida vaksin.
Dalam setiap tahap
bahan baku untuk tahap tertentu tidak akan bersinggungan dengan tahapan
berikutnya.
Perlu untuk
diketahui peranan tripsin babi sendiri di dalam vaksin. Sel bakteri yang
digunakan untuk vaksin memiliki dinding berupa protein. Enzim tripsin babi
hanya berfungsi sebagai gunting untuk memotong rantai panjang protein menjadi
peptida rantai pendek yaitu asam amino. Setelah mengalami fermentasi sel-sel
bakteri ini akan dipecah dan polisakarida yang ada di sebelah dalam dinding
bakteri tersebut diambil. Polisakarida inilah yang digunakan sebagai antigen
dalam vaksin. Jadi, antigen yang digunakan dalam vaksin ini tidak bersinggungan
baik langsung maupun tidak langsung dengan enzim tripsin babi.
Polisakarida
tersebut juga melewati proses pemurnian (purifikasi) dengan cara pencucian dan
pengenceran working seed. Pencucian working seed terjadi 1 : 67,5 milyar kali,
jadi dicuci dan diencerkan sebanyak 67,5 milyar kali. Keputusan hukum PP
Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama no 04 th 2010 tentang vaksin meningitis:
pensuciannya sesuai untuk najis berat. Enzim tripsin berperan sebagai
katalisator yang mempercepat reaksi hingga seribu kali. Tanpa biokatalisator
tripsin ini reaksi akan berjalan sangat lambat, bahkan bisa bertahun-tahun
sehingga tidak efektif.
Saat ini para
ilmuwan sedang terus mencoba untuk mengembangkan metode lain, seperti membuat
vaksin dengan media tumbuhan. Namun, menciptakan teknologi tidaklah semudah
membalik telapak tangan. Bisa jadi nanti anak-anak kita yang cerdas dan sehat
ini yang akan memperbaiki teknologi ini bukan?
Kesimpulan:
vaksinasi mubah silahkan jika ingin melakukan vaksinasi jika sesuai dengan
keyakinan.
Sumber:
Dr. Soedjatmiko,
SpA(K), MSi* dalam http://www.antaranews.com/berita/292632/tanya-jawab-kehalalan-dan-keamanan-vaksin?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter
Prof DR Umar
Anggara Jenie, guru besar Farmasi UGM dalam kultwit vaksin halal dan thoyyibah http://chirpstory.com/li/10761
Q:
APAKAH VAKSIN MENYEBABKAN AUTISME?
Isu
vaksin menyebabkan autis selalu meresahkan para orang tua. Isu ini berawal dari
seorang dokter ahli bedah, Andrew Wakefield, membuat penelitian yang hasil
akhirnya membuktikan vaksin MMR menyebabkan autisme. Penelitian ini dilakukan
pada tahun 1998 diterbitkan di jurnal kedokteran yang terpercaya yaitu The
Lancet dan diumumkan secara besar-besaran. Dunia geger dan orang tua di seluruh
dunia mengalami kepanikan menolak vaksinasi terutama MMR.
Para
ilmuwan dan WHO tidak tinggal diam, dilakukan penelitian yang sistemastis
dengan banyak sampel. Dari penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia,
sebelas penelitian besar membuktikan bahwa MMR tidak menyebabkan autisme dan
enam penelitian besar berhasil membuktikan keamanan thimerosal.
Setelah
ditelusuri ternyata Wakefield menerima suap jutaan dollar untuk membuat
penelitian rekayasa yang menghasilkan merk vaksin MMR yang digunakan saat itu
menyebabkan autisme. Penelitian Wakefield ini hanya melibatkan 12 anak yang
tentunya sangat tidak mewakili komunitas masyarakat di seluruh belahan dunia.
Penelitian ini juga terbukti tidak disetujui oleh Komite Etik tempatnya bekerja
dan dicemari dengan pemalsuan data.
Pada
tahun 2005 The Lancet mulai menarik artikelnya dan keterangan tentang
ketidakbenaran penelitian ini telah diumumkan secara resmi di jurnal resmi
kedokteran Inggris yang sangat berpengaruh di dunia kedokteran: British Medical
Journal yang terbit pada bulan Februari 2011.
Vaksin
dan bahan yang terkandung di dalamnya (thimerosal) tidak terbukti menyebabkan
autisme maupun kerusakan otak. Kejadian autisme biasanya terdiagnosis pada
tahun kedua usia bayi dimana pada usia tersebut bayi memang sering divaksinasi.
Dan pada pemeriksaan tubuh anak tidak terdapat kenaikan kadar merkuri baik di
darah, rambut maupun sel-sel yang lain. Berdasarkan penelitian meta-analisis
yang membandingkan anak yang divaksin dengan yang tidak divaksin dihasilkan
kejadian autismenya sama di kedua kelompok (pada anak yang tidak divaksin pun
ternyata tetap muncul kasus autisme). Oiya, meta analisis itu adalah tingkatan
penelitian tertinggi.
Sumber:
Q:
Benarkah ada merkuri yang berbahaya di dalam vaksin?
Sebagai
orang tua tentu saja kita ingin melindungi anak-anak kita. Kita tidak mau ada
bahan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh anak kita. Isu adanya merkuri di
dalam vaksin meresahkan banyak pihak. Isu tersebut mengingatkan kita akan
kejadian tragedi Minamata dimana keracunan merkuri menimpa warga di Minamata
Jepang sehingga muncul penyakit keracunan merkuri pada tahun 1956. Hal ini
dikarenakan adanya pabrik kimia yang membuang limbah mengandung metilmerkuri
(methylmercury) ke Teluk Minamata pada tahun 1932-1968.
Didalam
kehidupan kita sehari-hari, merkuri dikenal dalam 3 bentuk :
1.
Logam merkuri (elemental). Biasa ditemui pada termoter
tua. Merkuri tipe ini tidak bisa di serap oleh tubuh melalui oral (dimakan)
-kemampuan penyerapannya hanya 0.01%- sementara melalui proses inhalasi dapat
diserap sampai > 80%.
2.
Merkuri anorganik. Jenis merkuri ini dapat diserap
tubuh secara oral sampai 7 - 15 %, bentuk senyawa merkuri ini biasa ditemukan
pada batrei.
3.
Merkuri organik (methylmercury fungisida, fenil
merkuri, ethylmercury). Jenis merkuri ini mampu diserap tubuh melalui proses
oral sampai 90%.
Merkuri
disebut juga hydrargyrum atau air perak karena sifatnya yang cair seperti air
dan berkilau seperti perak. Jangan kan pada vaksin, ternyata logam berat
merkuri banyak ditemukan di alam ini bahkan pada bahan makanan. Merkuri banyak
kita temui di alam, sebagai mineral di bebatuan, dalam tanah, air, bahan bakar
fosil seperti batubara, sumber mata air panas dan letusan gunung berapi.
Merkuri organik ini juga bisa berasal dari merkuri anorganik yang dimetabolisme
oleh mikroorganisme yang hidup dalam air menjadi merkuri organik.
Merkuri
organik yang sering ditemukan di alam adalah metilmerkuri, merkuri yang sama
yang menyebabkan tragedi penyakit Minamata. Ikan dan kerang-kerangan memiliki
kemampuan untuk menyimpan merkuri di dalam tubuhnya, dan memiliki sifat
biomagnifikasi yaitu konsentrasi makin besar di tingkat piramida makanan yang
makin tinggi artinya pemangsa memiliki konsentrasi merkuri lebih tinggi
dibandingkan yang dimangsa. Metilmerkuri terdapat di ikan catfish, grouper,
makarel, sarden, hiu, tuna, kerang, tiram, kepiting, lobster dan udang.
Metilmerkuri
ini waktu paruhnya sangat lama yaitu 50 hari di darah dan hingga 120 hari di
otak manusia sehingga lama dikeluarkan dari tubuh. Karena metilmerkuri ini lama
di dalam tubuh, maka jika kadarnya berlebihan bisa memasuki jaringan otak
bahkan plasenta dan akan merusak otak bayi. Metilmerkuri bahkan ditemukan di
air susu ibu (ASI) saat ibu mengkonsumsi bahan yang mengandung metilmerkuri.
Merkuri
memiliki efek antibakterial (antiseptik) dan antijamur sehingga banyak
digunakan sebagai preservative dalam berbagai produk baik medis maupun
non-medis seperti kosmetik. Zat yang biasa digunakan adalah thimerosal atau
thiomerosal. Thimerosal dimetabolisme menjadi 46,9% merkuri organik yang berupa
etilmerkuri dan thiosalisilat. Etilmerkuri ini waktu paruhnya sangat jauh lebih
singkat daripada metilmerkuri yaitu 7 hari akan dikeluarkan dari tubuh.
Penggunaan etilmerkuri dinyatakan tidak berbahaya bagi tubuh. Etilmerkuri
menjadi berbahaya, baik untuk dewasa dan anak-anak, apabila kandungannya
1000-1000000 kali lipat dari yang ada di dalam vaksin.
Beberapa
tahun yang lampau berhembus isu thimerosal menyebabkan kerusakan otak pada anak
dan autisme. Isu ini sangat meresahkan para orang tua dan menurunkan kepercayaan
pada vaksinasi. Akhirnya FDA, EPA dan ATSR melakukan serangkaian penelitian.
Dari serangkaian penelitian, FDA memutuskan bahwa thimerosal dinyatakan aman
sebagai preservative vaksin. Namun, akhirnya pada tahun 2001 thimerosal sudah
tidak digunakan lagi sebagai preservative dalam vaksin untuk anak-anak.
Penghilangan thimerosal bukan karena etilmerkuri tidak aman, namun karena
menghindari kekhawatiran para orang tua. Hanya vaksin multidosis yang
menggunakan thimerosal, yaitu kemasan vaksin yang diambil berkali-kali.
Jadi,
saat ini sebagian besar vaksin untuk anak sudah bebas dari thimerosal atau
merkuri. :)
Sumber:
Q:
Apakah bahan vaksin berasal dari nanah?
Nanah?
Membayangkan nanah yang ada di jerawat saja saya jijik apalagi membayangkan zat
tersebut disuntikkan ke dalam tubuh bayi saya. Isu ini terkait dengan sejarah
pembuatan vaksin.
Sebelumnya
perlu dipahami bahwa produksi vaksin itu adalah produksi dalam jumlah sangat
banyak di skala industri modern yang besar. Sehingga ketersediaan bahan untuk
membuat vaksin harus selalu terjamin kualitas maupun kuantitasnya, berbeda
dengan mbok jamu yang tiap kali mau memproduksi jamu godhong kates (daun
pepaya) beliau pergi ke kebun lalu memetik daun pepaya segar setiap hari untuk
ditumbuk menjadi jamu.
Pada
tahun 1718, Lady Mary Wortley Montague seorang bangsawan Inggris melihat
kebiasaan bangsa Turki Othmany melakukan inokulasi, yaitu mengambil cairan
nanah dari penyakit cacar dengan gejala ringan (smallpox) ke anak yang sehat.
Kebiasaan itu terbukti melindungi anak-anak dari penyakit cacar
(smallpox/variola) yang sangat menular dan mematikan. Lady Mary kemudian
melakukan hal tersebut kepada kedua anaknya.
Pada
tahun 1796, seorang dokter di pedesaan Inggris mengamati bahwa para pekerja
yang terpapar dengan cacar sapi (cowpox) terlihat kebal terhadap serangan cacar
(smallpox/variola). Akhirnya dokter tersebut, Edward Jenner, mencoba mengambil
cairan nanah dari cacar sapi (cowpox) dan menginokulasikannya ke seorang anak laki-laki
sehat berusia 8 tahun, James Phillips, dan berhasil menciptakan kekebalan
terhadap infeksi cacar variola. Oleh sebab itu vaccination berasal dari kata
vacca yang artinya sapi, karena vaksinasi pertama kali dilakukan dengan
mengambil virus yang menginfeksi sapi untuk membentuk kekebalan terhadap
smallpox.
Itu
kejadian lebih dari 200 tahun yang lalu, memang benar berasal dari nanah sapi.
Namun, untuk masa sekarang ini, teknologi kedokteran sudah sangat berkembang
dengan pesat sehingga virus dan bakteri yang digunakan untuk vaksinasi bukan
diambil dari nanah lagi. Pembuatan vaksin itu adalah industri skala besar jadi
ketersediaan bahan harus terjaga konsistensi jumlah dan kualitasnya. Tidak
seperti orang menanam padi yang tiap 3 bulan panen, apa iya perusahaan vaksin
mau memelihara orang sakit cacar sehingga tiap hari mau dipanen nanahnya? Jelas
tidak mungkin, karena orang sakit cacar juga tidak tiap hari ada. Oleh sebab
itu, virus dan bakterinya dipelihara di laboratorium untuk dijaga kualitas dan
jumlahnya sehingga produksi vaksin skala besar bisa dilakukan setiap saat
selama vaksin tersebut masih dibutuhkan.
Sumber:
Q:
Apakah vaksin terbuat dari janin? Apakah vaksin terbuat dari ginjal kera?
Apakah vaksin terbuat dari babi dan anjing?
Penggunaan
vaksin “dari janin” ini biasanya menuai kontroversi di umat Katholik. Namun,
siapa pun pasti ngeri plus jijik jika mendapat informasi vaksin terbuat dari
janin, kera, babi dan anjing.
Serupa
dengan keterangan di atas, perlu dipahami bahwa produksi vaksin itu adalah
produksi dalam jumlah sangat banyak di skala industri modern yang besar.
Sehingga ketersediaan bahan untuk membuat vaksin harus selalu terjamin kualitas
maupun kuantitasnya, berbeda dengan mbok jamu yang tiap kali mau memproduksi
jamu godhong kates (daun pepaya) beliau pergi ke kebun lalu memetik daun pepaya
segar setiap hari untuk ditumbuk menjadi jamu.
Isu
ini muncul berkaitan dengan sejarah penemuan media yang digunakan untuk
pengembangbiakan virus dan bakteri yang akan digunakan dalam vaksin.
Media tumbuh ini ibarat “tanah” bagi pohon kelapa. Namun, virus dan bakteri
sayangnya berbeda dengan pohon kelapa yang bisa tumbuh di tanah manapun, mulai
dari daerah pantai hingga puncak gunung yang gersang.
Pada
era modern saat ini, bakteri bisa ditumbuhkan dan dipelihara di lingkungan
laboratorium tanpa memerlukan media hewani, jadi tinggal diberi zat makanannya
dan lingkungan yang nyaman bagi bakteri itu. Namun, berbeda dengan bakteri,
virus memerlukan media khusus, yaitu sel seperti sel-sel embrio di telur ayam.
Sel yang bisa digunakan untuk menumbuhkembangkan virus pun adalah sel khusus
yang terjaga kemurniannya di laboratorium dengan teknologi kultur jaringan,
yaitu strain cell atau cell line.
Strain
cell berupa cell line ini tidak mudah diperoleh, para ilmuwan di laboratorium
senantiasa bereksperimen dengan penuh ketelitian di bawah pengawasan Komite
Etik untuk menjaga agar penelitian tetap berjalan sesuai hukum dan koridor keilmuan
yang etis. Strain cell ini dikondisikan untuk mendapatkan satu jenis sel
tunggal yang abadi dan selalu berkembangbiak yang disebut cell line. Karena
untuk membuat vaksin skala industri dibutuhkan media sel yang murni, berjumlah
sangat besar dengan konsistensi sifat yang sangat terjaga. Cell line ini
asalnya bermacam-macam dan memang ada yang berasal dari tikus, mencit, kelinci,
sel kanker, janin manusia, kera, anjing dan lain-lain.
Alkisah,
ilmuwan mencoba untuk membiakkan virus di berbagai media sel. Pada tahun 1936
Albert Sabin dan Peter Olitsky membiakkan sel otak yang berasal dari janin
manusia yang sudah keguguran untuk membuat vaksin polio. Kemudian pada tahun
1951, Jonas Salk berhasil membiakkan sel dari ginjal kera (Vero cell line)
untuk vaksin polio. Hingga kini sel Vero ini dipelihara dan dikembangbiakkan
untuk memproduksi vaksin polio, variola, rotavirus dan japanese encephalitis.
Pada tahun 1958 juga dikembangkan sel Madin Darby Canine Kidney (MDCK) yang
diambil dari ginjal anjing cocker spanyol.
Virus
memerlukan sel tertentu untuk hidup, virus manusia membutuhkan media sel
manusia. Sel manusia ini bisa berasal dari sel kanker (contoh: Hela cell line
berasal dari sel kanker seorang pasien wanita Henrietta Lacks) atau sel janin
yang sebelumnya telah meninggal di rahim sang ibu. Janin yang meninggal di
rahim memang harus dikuret, sebab jika tidak dia akan menjadi racun bagi rahim
dan ibunya. Dengan persetujuan keluarga serta di bawah pengawasan Komite Etik
para ilmuwan melakukan percobaan kultur jaringan dari sel-sel janin yang telah
dikuret itu. Sel-sel ini disemai di media khusus di laboratorium sehingga
diperoleh sel abadi, yang selalu membelah diri, tidak bisa mati dan terjaga
konsistensi sifatnya.
Berbeda
dengan sel-sel kanker, sel diploid janin manusia memiliki jumlah kromosom yang
sama seperti sel-sel normal manusia. Pada tahun 1960-an rubella kongenital
yaitu infeksi virus rubella pada wanita hamil menyebabkan banyak janin yang
mati dalam kandungan. Pada tahun 1961 di Amerika Serikat, ada janin perempuan
berumur 3 bulan yang diserang oleh virus rubella, janin ini kemudian meninggal
di rahim ibunya. Janin kemudian dikuret dan atas persetujuan semua pihak
digunakan untuk mengetahui rubella kongenital dan mendapatkan cell line yang
tepat untuk media virus rubella. Dari sel-sel di paru-paru janin diperoleh
strain cell WI-38 yang sangat cocok untuk mengembangbiakkan rubella. Sementara
itu pada tahun 1965, di Inggris juga diperoleh strain cell WRC-5 dari paru-paru
janin laki-laki berusia 14 minggu yang meninggal di rahim akibat rubella
kongenital. Dari kedua strain cell ini, WI-38 dan WRC-5, berhasil dibuat vaksin
rubella dengan tingkat efektifitas 95% untuk mencegah kematian dan kecacatan
janin akibat rubella kongenital. Strain cell ini juga digunakan untuk membuat
vaksin hepatitis A, varicella, zoster, rabies dan adenovirus.
Hingga
saat ini saya tidak menemukan adanya vaksin yang dibuat dari SEL babi atau DNA
babi.
Jadi,
yang saat ini digunakan untuk membuat vaksin di pabrik vaksin adalah sel vero,
sel MDCK, sel WI-38 dan MRC-5 ini. Bukan janin-janin atau kera-kera atau
anjing-anjing dibunuh setiap hari untuk membuat vaksin. Dan, usia sel-sel
inipun sudah jauh lebih tua daripada saya, usia mereka sudah 40 tahun lebih dan
mereka hidup terjaga kemurniannya di laboratorium. Pihak gereja Katholik pun
akhirnya memberikan ijin atas penggunaan vaksin-vaksin ini. Kabar baiknya saat
ini Biofarma berhasil mengembangkan media dari sel tumbuhan jagung, sehingga
kita tidak perlu khawatir lagi.
Sumber:
diambil dari notes
dr.Annisa Rohima Karnadi http://www.facebook.com/notes/annisa-rohima-karnadi/vaksinasi-renungan-panjang-sebuah-kebimbangan/10150909024277548
