Background



Sebuah pernyataan datang dari antivaks bahwa " Antibodi ASI itu long life sehingga tidak perlu vaksin".
Apakah pernyataan ini benar?

Gambar di atas diambil dari buku “Cellular and Molecular Immunology Seventh Edition” , edisi yang paling baru (tahun 2012), hal. 96. Buku ini merupakan salah satu buku standar untuk mempelajari Imunologi Dasar, termasuk di Fakultas Kedokteran. Di situ disebutkan (dalam kotak merah), bahwa IgG adalah antibodi dengan waktu paruh terlama, yaitu 23 hari. IgA, antibodi yang banyak ditemukan dalam ASI, hanya memiliki waktu paruh 6 hari. Jadi, silakan disimpulkan sendiri, apakah pernyataan dokter tersebut benar?

Kalau merasa benar, silakan berikan referensi dan bukti ilmiah Anda, jangan asal berbicara tanpa ilmu yang benar. Ingatlah, kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan.

Referensi: Abbas, A.K., et al. 2012. Cellular and Molecular Immunology Seventh Edition. Elsevier Saunders.
Ini edisi bredel bukunya Ummu Salamah Al Hajam. Di dalam bukunya dikatakan bahwa vaksin akan mewarisi inang genetik DNA Vaksin.Jadi kalo si vaksin ini dibuat dari DNA penjahat,nanti semua yg divaksin akan mewarisi sifat sifat si penjahat..Hahahahhaha...

Apa semudah itu, sel atau DNA asing mengubah sifat seseorang? Orang yg pernah belajar sedikit ilmu genetik pun akan tertawa gan membaca halusinasi ibu ini. Entah sang ibu belajar ilmu genetik dimana sehingga menjadi berhalusinasi seperti ini.

Kalau semudah itu sel asing mengubah genetik DNA seseorang, anak2 yg dilahirkan dalam keadaan cacat genetik bisa sembuh total gan. Ga perlu operasi, ga perlu pengobatan lama, ga perlu mereka sampai cacat seumu
r hidup. Cukup masukkan aj sel dari orang normal dan sehat, lalu si bayi “akan mewarisi genetik DNA” dari orang normal tersebut. Mudah banget ‘kan menurut bu USA ini?

Ga perlu teori aneh2 gan utk menjelaskan halusinasi ibu yg satu ini. Ada ulama terlahir dari bukan ulama, ada ilmuwan yang terlahir dari orang tua bukan ilmuwan. Ada orang miskin yg anaknya pinter. Lha anak kembar identik sj sifatnya bisa jauh berbeda. Dan lageee... dari jaman baheula manusia 'kan makan sapi, ayam, kambing, Kenapa ya watak kita ga jadi kaya sapi, apalagi ayam yg kukuruyuuuk pagi2. Jaringan dan organ dlm tubuh bayi berasal dari sel sperma dan ovum dari Bapak-Ibunya yg kemudian membelah dan memperbanyak diri. Apa bisa DNA asing itu menggantikan semua DNA dalam sel2 itu? 

Inilah akibat kalau terlalu banyak berhalusinasi sambil nulis buku. Apa yang ditulis di situ hanya berdasar halusinansi bu USA, yg dirangkai sedemikian rupa seolah2 merupakan sesuatu yg terjadi di alam nyata. Anak SMA yang baru belajar Biologi pun akan dgn mudah menertawakannya.

"Dan Allah membenci kalian bila kalian: (1) Suka QIILA WA QAALA (BERKATA TANPA DASAR), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta” (HR. Muslim)



Pertanyaannya sederhana saja.Benarkah?atau lagi-lagi gagal paham dan gagal terjemah? Mari kita kritisi argumentasi tersebut. Berikut adalah kutipan yg didapat dari link tersebut. Baca dengan teliti dan anda akan tahu bahwa argumentasi antivaks tersebut salah total. 
"Even though the last case of wild-virus poliomyelitis (polio) in the United States occurred in 1979, 152 confirmed cases of paralytic polio were reported between 1980 and 1999. Six cases were acquired outside the United States and imported. Two cases were classified as indeterminant (no poliovirus isolated from samples obtained from the patients, and patients had no history of recent vaccination or direct contact with a vaccine recipient). The remaining 144 (95%) cases were vaccine-associated paralytic polio (VAPP) caused by live oral polio vaccine."

TERJEMAH:
Meskipun di AS ditemukan kasus terakhir POLIO LIAR pada tahun 1979, antara tahun 1980 - 1999 (dalam HAMPIR 20 THN) dilaporkan 152 kasus polio paralitik (yang terdiri dari) :

- 6 kasus dibawa oleh pendatang dari luar AS.

- 2 kasus digolongkan sbg indeterminan (dari SAMPEL yg diambil dari pasien TIDAK DITEMUKAN VIRUS POLIO dan PASIEN TIDAK MEMILIKI RIWAYAT VAKSINASI POLIO ATAU KONTAK DENGAN RESIPIEN VAKSIN --> artinya : diLAPORkan SBG polio, tetapi pemeriksaan menyeluruh membuktikan bhw kasus2 tsb tidak terkait vaksin maupun kontak dg penerima vaksin)

- 144 disebut sebagai vaccine-associated paralytic polio (VAPP) yg disebabkan oleh vaksin polio oral.
CATATAN: (95% DARI YG 152 LAPORAN KASUS POLIO sselama hampir 20 thn di atas, BUKAN 95% dari populasi dan BUKAN 95% berisiko menyebabkan polio sebagaimana dikesankan seakan-akan orang yg menerima OPV 95% kemungkinan akan menderita polio)

Kesimpulan :

144 (kasus) : 19 (tahun) = 7,57 kasus per tahun, dibanding populasi yg menerima vaksin, which is JUTAAN lebih orang.

Maka pilihan kita adalah :

1. OPV dg risiko VAPP 1 : 1.000.000 (literatur lain menyebutkan 1 : 2.500.000), artinya diantara 1jt- 2,5jt orang yg menerima OPV ada kemungkinan 1 yg beresiko VAPP.
2. IPV untuk menghindari resiko di atas dg penggunaan tripsin babi dalam proses awal pembuatan yg sudah tidak ditemukan lagi dalam produk akhir setelah mengalami pencucian 65 milyar kali (jadi dalam produk akhir TIDAK MENGANDUNG UNSUR BABI sama sekali).
3. Tidak vaksinasi dg risiko terpapar virus polio liar dan mengalami kelumpuhan permanen sebagaimana dialami saudara2 kita di Jawa Barat http://www.unicef.org/indonesia/id/reallives_3189.html
Resiko VAPP krn OPV antara 7 sampai 8 kasus pertahun menjadi sangat kecil jika dibandingkan dg sebelum adanya vaksin polio, di mana terdapat 13.000 – 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS
Vaksinasi = Trial and Error dan Bisnis?




Kita buktikan kesesatan kata2 Ummu Salamah di bukunya dengan mengambil contoh bagaimana para peneliti mengembangkan vaksin untuk malaria.

Admin kutip jurnal yg berjudul “Advances and Challenges in Malaria Vaccine Development” (Kemajuan dan Tantangan dalam Pengembangan Vaksin Malaria).


Di situ dijelaskan sejumlah kandidat vaksin malaria yang selama ini diteliti. Total (dari tabel 1, 2, dan 3) ADA 43 KANDIDAT VAKSIN YANG SUDAH DITELITI SELAMA BERTAHUN-TAHUN (kurang lebih 20 tahun gan!)
***Maap gan, tabelnya ga bisa di-skrinsyut utuh, ga muat.

Lalu, apakah sudah ada vaksin malaria yg boleh digunakan utk manusia saat ini?
Jawabannya, BELUM ADA! Padahal berapa duit utk membiayai semua penelitian itu?

Ada yg tidak lolos ke fase selanjutnya karena tidak efektif (tanda garis merah) dan ada pula yg karena terbukti tidak aman pd hewan percobaan, dll. Dari pengembangan vaksin malaria ini, kita dapat mengambil bbrp pelajaran:

1. Pihak yg berwenang akan sangat berhati2 ketika menyetujui vaksin, harus terbukti aman dan efektif pd manusia, harus dibuktikan baik dalam fase pre-klinik atau fase klinik. Ga peduli sudah penelitian >20 tahun pun, kalau ga terbukti aman dan efektif, JANGAN MIMPI VAKSIN ANDA DISETUJUI.

2. Vaksin justru BUKAN bisnis yg menguntungkan, karena utk mengembangkan vaksin, butuh uang jutaan dolar, dan BELUM TENTU BERHASIL! Kalau sudah berhasil pun, HANYA dipakai sekali atau dua kali per orang seumur hidup. Bandingkan dengan obat DIABETES atau DARAH TINGGI yg bisa diminum 1-2 kali per hari dlm jangka yg luamaaaaa banget.

Sekali lagi, ini bukti bahwa yg nulis buku ini BUKAN AHLI VAKSIN tapi SOK TAHU TENTANG VAKSIN!