1.
Mengapa vaksin BCG yg cukup tinggi cakupannya saat ini masih belum
mampu mencegah infeksi TB??? --> Menurut WHO TB merupakan ancaman
kesehatan global dengan perkiraan kasus mencapai 8,7 dewasa ini, dan
menimbulkan kematian 1,4 juta jiwa per tahun.
JAWAB: Jangan dipelintir budok gigi. Vaksin BCG paling efektif untuk mencegah TB meningitis atau TB milier pada anak, sedangkan untuk mencegah TB paru efektivitasnya bervariasi antara 0-80%, jadi memang tidak kebal 100%. Jadi wajar kalo kasusnya masih banyak dan masih menjadi masalah kesehatan global. Coba kalo disajikannya data tentang efektivitas vaksin BCG untuk pencegahan TB meningitis atau TB milier. Nih Admin kasih jurnalnya ... Dibaca ya budok, ‘kan katanya thinher eh thinker:
- http:// www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/8144299
- http:// www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/16616560
- http:// www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/16826312
- http:// www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/15628980
- http:// www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/16227549
2. Mungkin sudah saatnya tidak berharap pada vaksin semata2 untuk pencegahan. Perbaiki nutrisi, perbaiki sanitasi, perbanyak edukasi.
JAWAB: Bu dokter, usaha untuk menurunkan angka kejadian penyakit infeksi itu harus menyeluruh. Perbaikan nutrisi, sanitasi, edukasi, dan vaksin itu semuanya saling melengkapi, namun tidak saling menggantikan. Kalau logika budokter seperti itu, berarti negara2 maju kayak Eropa Barat dan Amerika harusnya g ada vaksin dong? Kan mereka nutrisi tercukupi, sanitasi terjamin kesehatannya, mau kurang apa lagi? Oleh karena itu, tidak ada satu pun provaks yg berharap pd vaksin semata2. Vaksin hanya salah satu usaha sj. Anak vaksin lengkap tapi malnutrisi tetep sj rentan trhdp penyakit infeksi. Sebenernya aneh jg sih njelaskan hal sederhana seperti ini ke bu dokter.
3. Kesimpulannya vaksin yg sekarang ada belum cukup efektif gitu?? Pantes angka TB pada bayi meningkat ya?? Di mana2 dgr baby kena flek paru, atau TB ... klo jaman dulu jarang bgt yah dgr, paling yg udah aki2 atau yg perokok berat gitu ...
JAWAB: Ciyusss ... Ini salah vaksin BCG? Ato salah guwe? Salah temen-temen guwe? Mbak mbak, namanya juga usaha. Kalo usahanya belum berhasil, ya tetep harus usaha dengan cara lain yang lebih efektif. TB pada bayi biasanya ditularkan oleh penderita TB orang dewasa. Kalo angka TB pada bayi meningkat bisa jadi angka TB pada orang dewasa juga meningkat, pengobatan TB pada orang dewasa yang kurang berhasil, dsb.
Nah, usaha para ilmuwan untuk menekan angka TBC ini ya salah satunya mengembangkan vaksin baru sebagai pengganti vaksin BCG. Ini admin kasih jurnalnya di kanan bawah. Berdasarkan artikel tersebut, sampai saat ini sudah ada 15 kandidat baru vaksin TB yg sudah masuk uji klinis fase 1 dan 2. Teknologi yg digunakan pun bermacam2, tidak hanya bakteri yg dilemahkan sj, tapi juga menggunakan “vector” atau “sub-unit vaccine” utk merangsang respon imun spesifik trhadap TBC. (Jadi ingat “calon dokter” yg katanya vaksin itu terbuat dari darah dan nanah???)
Dari artikel tersebut, setidaknya ada beberapa pesan penting yg harus diketahui:
a) Vaksin terus-menerus di-evaluasi keamanan dan keefektifannya. Kalau memang terbukti kurang optimal, misalnya pada vaksin BCG ini, maka para ilmuwan tidak akan berhenti untuk mencari vaksin baru yg lebih efektif.
b) Namun, vaksin baru ini juga harus melewati tahap uji yg kompleks, karena harus: aman dan efektif. Kalau g efektif (kayak vaksin yg di-uji ini), ya jangan harap bisa dikasih ke bayi. Vaksin “lama” mungkin akan diganti ketika ditemukan vaksin baru yg lebih efektif. Di sini juga ada pelajaran ttg kaidah penting meneliti yaitu: KEJUJURAN. Kalau g terbukti efektif ya laporkan apa adanya, jangan coba2 ngubah2 data.
4. Iya yah..jd kepikiran..kenapa vaksinnya gak di uji cobain ma bayi2/anak2 mereka yg bikin vaksin ajah yak?kenapa harus bayi2 sehat di Afrika?WHYYYY?..kira2 mereka yg PRO ma Vaksin mau gak yah kalo anak2nya jd Volunteer Uji coba Vaksin ini?Mau gak yaaaah???
JAWAB: Lah,,, yg diuji kan “preventive/prophylactic vaccine” bu, yaitu vaksin yg dtujukan untuk pencegahan. Makanya dites pd anak sehat di Afrika. Kenapa Afrika? Lha mau diujikan ke mana? Amerika? Kutub Utara? Lha yang jumlah penderita TB-nya masih banyak daerah mana? Ini nih susahnya kalau yg berpendapat nggak ngerti epidemiologi, dan g ada yg meluruskan (termasuk budok gigi yg posting kok diem aj ada temennya gagal faham begini?) Kalo diujikan di Amerika Serikat sana, kira-kira bisa ga dilihat efektivitas pencegahannya, sedangkan jumlah kasus TB-nya saja sedikit? Mau follow-up berapa puluh tahun kalau diuji di Amerika?
Nah, kalau yg diuji itu “therapeutic vaccine” (vaksin utk pengobatan), barulah diuji pada penderita TBC utk mengetahui bagaimana efektifitas vaksin untuk meningkatkan kekuatan sistem imunitas mengusir kuman TBC yg sudah lamaaa banget bersarang di paru-paru dan tidak bisa diusir sama sistem imun penderita. Aduh,,, jangan2 pd nggak ngerti kalau ada “therapeutic vaccine” ya???
5. Kasian bayi2 ituuuu .... :cry: :?
JAWAB: Lagi, ini nih kalau nggak faham bagaimana uji klinis dilakukan. Jadi membayangkan kalau namanya uji klinis itu seolah2 anak bayi yg dipermainkan kayak binatang. Mungkin nggak pernah tahu (apalagi mengalami sendiri) susahnya mendapatkan ijin untuk melakukan uji klinis. Untuk uji klinis fase satu saja, yg notabene jumlah subjeknya terbatas, bisa 1-2 tahun mengurus ijinnya di Komite Etik (Kok jadi inget dosen antivaks yg seenaknya melakukan penelitian tanpa persetujuan Komite Etik ya???). Harus bisa menjelaskan manfaatnya, risikonya terhadap subjek, termasuk risiko ke lingkungan sekitar (jika ada), antisipasi hal2 yg tidak diinginkan bagaimana, de el el. Bahkan, ada uji klinis fase 2 yg selama 2 tahun lebih hanya berkutat masalah perijinan ini di Komite Etik. Bandingkan dengan “uji klinis” ala USA yg langsung nyuntikkan minyak habbatus sauda ke pembuluh darah sendiri. Siapa yg ngawasi? Anda mau jadi subjek penelitiannya USA?
Gan, admin tidak melarang agan-agan sekalian berpikir kritis, tapi ya kl memang gagal paham, jangan kumpul bocah begini Gan. Silahkan tanya sama yg lebih ngerti, yg lebih ahli, jgn malah saling bikin gagal paham kayak yg diskrinsut ini ... Jadinya ini ni Gan, gagal paham tingkat galaksi.
Reference:
Parida SK, Kaufmann, SHE. 2010. Novel tuberculosis vaccine on the horizon. Curr. Op. Immunol. 22: 374-84.
JAWAB: Jangan dipelintir budok gigi. Vaksin BCG paling efektif untuk mencegah TB meningitis atau TB milier pada anak, sedangkan untuk mencegah TB paru efektivitasnya bervariasi antara 0-80%, jadi memang tidak kebal 100%. Jadi wajar kalo kasusnya masih banyak dan masih menjadi masalah kesehatan global. Coba kalo disajikannya data tentang efektivitas vaksin BCG untuk pencegahan TB meningitis atau TB milier. Nih Admin kasih jurnalnya ... Dibaca ya budok, ‘kan katanya thinher eh thinker:
- http://
- http://
- http://
- http://
- http://
2. Mungkin sudah saatnya tidak berharap pada vaksin semata2 untuk pencegahan. Perbaiki nutrisi, perbaiki sanitasi, perbanyak edukasi.
JAWAB: Bu dokter, usaha untuk menurunkan angka kejadian penyakit infeksi itu harus menyeluruh. Perbaikan nutrisi, sanitasi, edukasi, dan vaksin itu semuanya saling melengkapi, namun tidak saling menggantikan. Kalau logika budokter seperti itu, berarti negara2 maju kayak Eropa Barat dan Amerika harusnya g ada vaksin dong? Kan mereka nutrisi tercukupi, sanitasi terjamin kesehatannya, mau kurang apa lagi? Oleh karena itu, tidak ada satu pun provaks yg berharap pd vaksin semata2. Vaksin hanya salah satu usaha sj. Anak vaksin lengkap tapi malnutrisi tetep sj rentan trhdp penyakit infeksi. Sebenernya aneh jg sih njelaskan hal sederhana seperti ini ke bu dokter.
3. Kesimpulannya vaksin yg sekarang ada belum cukup efektif gitu?? Pantes angka TB pada bayi meningkat ya?? Di mana2 dgr baby kena flek paru, atau TB ... klo jaman dulu jarang bgt yah dgr, paling yg udah aki2 atau yg perokok berat gitu ...
JAWAB: Ciyusss ... Ini salah vaksin BCG? Ato salah guwe? Salah temen-temen guwe? Mbak mbak, namanya juga usaha. Kalo usahanya belum berhasil, ya tetep harus usaha dengan cara lain yang lebih efektif. TB pada bayi biasanya ditularkan oleh penderita TB orang dewasa. Kalo angka TB pada bayi meningkat bisa jadi angka TB pada orang dewasa juga meningkat, pengobatan TB pada orang dewasa yang kurang berhasil, dsb.
Nah, usaha para ilmuwan untuk menekan angka TBC ini ya salah satunya mengembangkan vaksin baru sebagai pengganti vaksin BCG. Ini admin kasih jurnalnya di kanan bawah. Berdasarkan artikel tersebut, sampai saat ini sudah ada 15 kandidat baru vaksin TB yg sudah masuk uji klinis fase 1 dan 2. Teknologi yg digunakan pun bermacam2, tidak hanya bakteri yg dilemahkan sj, tapi juga menggunakan “vector” atau “sub-unit vaccine” utk merangsang respon imun spesifik trhadap TBC. (Jadi ingat “calon dokter” yg katanya vaksin itu terbuat dari darah dan nanah???)
Dari artikel tersebut, setidaknya ada beberapa pesan penting yg harus diketahui:
a) Vaksin terus-menerus di-evaluasi keamanan dan keefektifannya. Kalau memang terbukti kurang optimal, misalnya pada vaksin BCG ini, maka para ilmuwan tidak akan berhenti untuk mencari vaksin baru yg lebih efektif.
b) Namun, vaksin baru ini juga harus melewati tahap uji yg kompleks, karena harus: aman dan efektif. Kalau g efektif (kayak vaksin yg di-uji ini), ya jangan harap bisa dikasih ke bayi. Vaksin “lama” mungkin akan diganti ketika ditemukan vaksin baru yg lebih efektif. Di sini juga ada pelajaran ttg kaidah penting meneliti yaitu: KEJUJURAN. Kalau g terbukti efektif ya laporkan apa adanya, jangan coba2 ngubah2 data.
4. Iya yah..jd kepikiran..kenapa vaksinnya gak di uji cobain ma bayi2/anak2 mereka yg bikin vaksin ajah yak?kenapa harus bayi2 sehat di Afrika?WHYYYY?..kira2 mereka yg PRO ma Vaksin mau gak yah kalo anak2nya jd Volunteer Uji coba Vaksin ini?Mau gak yaaaah???
JAWAB: Lah,,, yg diuji kan “preventive/prophylactic vaccine” bu, yaitu vaksin yg dtujukan untuk pencegahan. Makanya dites pd anak sehat di Afrika. Kenapa Afrika? Lha mau diujikan ke mana? Amerika? Kutub Utara? Lha yang jumlah penderita TB-nya masih banyak daerah mana? Ini nih susahnya kalau yg berpendapat nggak ngerti epidemiologi, dan g ada yg meluruskan (termasuk budok gigi yg posting kok diem aj ada temennya gagal faham begini?) Kalo diujikan di Amerika Serikat sana, kira-kira bisa ga dilihat efektivitas pencegahannya, sedangkan jumlah kasus TB-nya saja sedikit? Mau follow-up berapa puluh tahun kalau diuji di Amerika?
Nah, kalau yg diuji itu “therapeutic vaccine” (vaksin utk pengobatan), barulah diuji pada penderita TBC utk mengetahui bagaimana efektifitas vaksin untuk meningkatkan kekuatan sistem imunitas mengusir kuman TBC yg sudah lamaaa banget bersarang di paru-paru dan tidak bisa diusir sama sistem imun penderita. Aduh,,, jangan2 pd nggak ngerti kalau ada “therapeutic vaccine” ya???
5. Kasian bayi2 ituuuu .... :cry: :?
JAWAB: Lagi, ini nih kalau nggak faham bagaimana uji klinis dilakukan. Jadi membayangkan kalau namanya uji klinis itu seolah2 anak bayi yg dipermainkan kayak binatang. Mungkin nggak pernah tahu (apalagi mengalami sendiri) susahnya mendapatkan ijin untuk melakukan uji klinis. Untuk uji klinis fase satu saja, yg notabene jumlah subjeknya terbatas, bisa 1-2 tahun mengurus ijinnya di Komite Etik (Kok jadi inget dosen antivaks yg seenaknya melakukan penelitian tanpa persetujuan Komite Etik ya???). Harus bisa menjelaskan manfaatnya, risikonya terhadap subjek, termasuk risiko ke lingkungan sekitar (jika ada), antisipasi hal2 yg tidak diinginkan bagaimana, de el el. Bahkan, ada uji klinis fase 2 yg selama 2 tahun lebih hanya berkutat masalah perijinan ini di Komite Etik. Bandingkan dengan “uji klinis” ala USA yg langsung nyuntikkan minyak habbatus sauda ke pembuluh darah sendiri. Siapa yg ngawasi? Anda mau jadi subjek penelitiannya USA?
Gan, admin tidak melarang agan-agan sekalian berpikir kritis, tapi ya kl memang gagal paham, jangan kumpul bocah begini Gan. Silahkan tanya sama yg lebih ngerti, yg lebih ahli, jgn malah saling bikin gagal paham kayak yg diskrinsut ini ... Jadinya ini ni Gan, gagal paham tingkat galaksi.
Reference:
Parida SK, Kaufmann, SHE. 2010. Novel tuberculosis vaccine on the horizon. Curr. Op. Immunol. 22: 374-84.
gan..gan..ini lho, ada lagi yang unyu2 dari grup tetangga sebelah..kayaknya baru seneng bangeet dapet jurnal. Kayaknya baru dapet dari googling pake keyword autoimmunity and immunization, hihihi.
gak dikasi keterangan apa2 sama si Bapak yang terkenal sebagai antivaks itu, tapi...jaga2 deh, takut salah paham. Ini kalau agan penasaran, cekidot
http://www.plosone.org/article/info:doi/10.1371/journal.pone.0008382
Betul kok, gan. Jurnal ini bukan HOAX, tapi sharing sedikit resumenya gini lho gan.
Jurnal ini mencari tahu dan membahas teori mekanisme baru terjadinya penyakit autoimmun. Dulu autoimmun dihipotesiskan salah satu mekanismenya terjadi akibat cross-reactivity antigen terhadap kuman, artinya antibodi tubuh kita salah mengenali antigen tubuh kita sebagai antigen kuman karena kemiripannya.
Nah jurnal ini melaporkan bahwa, eksposure terhadap kuman (virus, bakteri, dll) berulang kali dengan KEKUATAN PENUH bisa juga menyebabkan autoimmunity melalui mekanisme over stimulasi. FULL POWER and OVERLOAD DOSAGE..itu INTINYA. BACA TELITI Yaaaa.
Jurnal ini memaparkan sebuah model SIMULASI eksposure antigen berulang di manusia dengan melakukan imunisasi berulang pada TIKUS, DENGAN DOSIS OVERLOAD atau bisa disamakan dengan seseorang menerima PAPARAN INFEKSI FULL POWER berulang-ulang, sebagaimana disebutkan tuh pada bagian”discussion” jurnal penelitian ini.
“Ini terjadi pada populasi anak muda yang YANG TIDAK MENERIMA VAKSIN MEASLES”—itu tuuuu ibu ibu yg PeDe bilang mending terinfeksi ALAMI saja, supaya dapat kekebalan ALAMI. Memangnya kalau mendapat kekebalan dari vaksin, itu kekebalan palsu? Aduuuh, yang ada pemahaman palsu kalee...
Ini agan kopas asli penjelasan di atas, yang disebutkan di Jurnal yg sama,
--duh si Bapak yg share, udah baca belum yaaaa
"Living organisms are constantly exposed to a broad range of environmental antigens, as exemplified by the recent re-emergence of measles virus infection among a subpopulation of Japanese young adults who were not vaccinated against the virus. We therefore conclude that systemic autoimmunity necessarily takes place when host's immune ‘system’ is overstimulated by external disturbance, i.e., repeated exposure to antigen, to the levels that surpass system's self-organized criticality, and propose here ‘self-organized criticality theory’ explaining the cause of autoimmunity"
Jadi Gan,
kalau dibaca2, jurnal ini TIDAK untuk membuktikan bahwa imunisasi dg vaksinasi menimbulkan respon autoimun, tp imunisasi secara berlebih (overload) dg FULL POWER atau yg ibu2 sekalian sering diistilahkan sebagai IMUNISASI ALAMI BISA mengakibatkan autoimun response.
Dari metodologi penelitiannya, Penelitian ini pastinya tidak bisa dianalogikan dgn pemberian vaksinasi pada human atau bayi, ambil contoh saja perhitungan dosis yang diberikan. Kalau pada manusia, tentnya sudah diperhatikan (misal) berapa banyak dosis antigen yang diberi ntuk menimbulkan respon innate immunity, termasuk hitng2an adjuvantnya
Dan ingat, harus dibedakan antara autoimmun respon yang merupakan respon yang terjadi umum pada orang sehat dengan autoimmun disorder / disease. Untuk autoimmune disease, sampai saat ini belum ada penelitian yang valid secara eksperimental dan epidemiologi untuk mengatakan bahwa vaksinasi mengakibatkan autoimmne disorder, masih case per case. Cekidot jurnal pembanding ntuk referensi -nya ya gan..
http://image.thelancet.com/extras/02art9340web.pdf
—betewe busway, supaya mencegah dari si bapak dari kegagalpahaman yg selama ini dia sebarkan sebelumnya? Maka mimin duluin deh mbahas jurnal ini. Mumpung mimin lowong waktunya..pas imlek lagi..hihihihi..kayaknya Mimin juga belum pernah dengar kalau si Bapak mengklarifikasi kegagalpahaman yang sebelum-belumnya.
Akhir kata...
Agan agan sekalian,
jurnal itu bisa diAKSES SIAPA SAJA, TAPI TIDAK SIAPA SAJA bisa PAHAM.
Jangan sombong untuk TANYA kepada yg lebih paham.
Jangan cuma skimming cari kata "immunization" "injury" "damage" terus kopas sana sini pakai PEMAHAMAN yg SALAH.
Gak takut sama pertanggungjawaban di hari akhir, yg sering Bapak sendiri ingatkan kepada orang lain?
wallahu a'lam
dikutip dari: https://www.facebook.com/notes/umm-hamzah/vaksin-dalam-tinjauan-islam/10150347167152710
oleh : Umm Hamzah
Imunisasi adalah masalah ijtihadiyah, maka sikapilah masalah ini sebagaimana menyikapi masalah ijtihadiyah lainnya. Hal ini perlu ditegaskan berhubung adanya sebagian kaum muslimin yg bertanya-tanya tentang status halal haram vaksin tetapi tidak mendapatkan informasi yg diinginkan.
Adapun tuduhan bahwa imunisasi adalah konspirasi Yahudi internasional atas bangsa muslim masih perlu ditelusuri dengan seksama kebenarannya. Islam bukan agama tuduh menuduh tanpa pembuktian yang sahih berdasarkan firman Allah :
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat [An Nisaa : 58].
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan [Al Maa'idah : 8].
Kalau pun tuduhan konspirasi itu benar, maka masih perlu di tinjau kembali status hukum syar’inya.
Untuk sampai kepada status hukum imunisasi penting diketahui terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut [5] :
1. Istihalah
Istihalah adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, bai menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya.9
Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah ini diperselisihkan ulama, hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut :
a.Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khamr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci.
b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan sabda Nabi “ Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci.” ( Lihat Shohihul-Jami’ : 2711)
c.Benda-benda baru tersebut – setelah perubahan – hukum asalnya adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.
Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhahiriyyah[10], salah satu pendapat dalah madzhab Malik dan Ahmad[11]. Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah[12], Inul Qoyyim, asy-Syaukani[13], dan lain-lain.[14]
Imam Ibnul-Qoyyim berkata : “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”[15]
2. Istihlak
Istihlak adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya.
Apabila benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci?
Bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut :
“Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (Shohih. Lihat Irwa’ul-Gholil:14)
“Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.” (Shohih. Lihat Irwa’ul-Gholil:23).
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakn warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barang siapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah, sangat jauh dari logika.”[16]
Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khamr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khamr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khamr. Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu ibu) yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuan.”[17]
3.Darurat dalam Obat
Dharurah (darurat) adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:
“Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang”
Namun kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan: tidak ada pengganti lainya yang boleh (mubah/halal) dan mencukupkan sekadar untuk kebutuhan saja.
Oleh karena itu, al-Izzu bin Abdus Salam mengatakan : “Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”[20]
4.Kemudahan Saat Kesempitan
Sesungguhnya syari’at islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan Imam asy-Syathibi mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti”.[20]
Semua syari’at itu mudah. Namun, apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan Imam asy-Syafi’i tatkala berkata :
“Kaidah syari’at itu dibangun (di atas dasar) bahwa segala sesuatu apabila sempit maka menjadi luas.”[21]
5.Hukum Berobat dengan sesuatu yang Haram
Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :
a.Berobat dengan khamr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama, berdasarkan dalil :
“Sesungguhnya khamr itu bukanlah obat melainkan penyakit.” (HR. Muslim:1984)
Hadist ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khamr dijadikan sebagai obat.22
b.Berobat dengan benda haram selain khamr. Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua pendapat :
Pertama : Boleh dalam kondisi darurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Ibnu Hazm.23 Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah : “… Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya….” (QS. Al- An’am [6]:119)
Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit, Nabi membolehkan emas bagi sahabat arfajah untuk menutupi aibnya, dan bolehnya orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya.
Kedua: Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah.24 Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :“Sesungguhnya allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan berobat dengan benda haram” (ash-Shohihah:4/174)
Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.
Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi kriteria sebagai berikut :
1)Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati
2)Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
3)Tidak ada pengganti lainnya yang mubah.25
6.Fatwa-fatwa
Dalam kasus imunisasi jenis ini, kami mendapatkan beberapa fatwa yang kami pandang perlu kami nukil di sini :
a.Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta’ wal-Buhuts
Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majelis mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at, kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :
1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yaitu melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang besar. Sesungguhnya pintu fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan bahwa cairan (vaksin) itu najis- apabila terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur denga memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah menumbuhkan maslahat dan membedung mafsadat.
2) Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang lingkup ijtihad) seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.26
b.Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Sya’ban 1423H, setelah mendiskusikan masalah ini mereka menetapkan :
1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari – atau mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
2). Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.27
c. Fatwa Ketua Dewan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz ditanya : Bagaimana hukum berobat dengan imunisasi (mencegah sebelum tertimpa musibah) ?
Jawaban.
La ba’sa (tidak masalah) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Juga tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih, artinya : “Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”. Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.
Tapi tidak boleh berobat dengan menggunakan jimat-jimat untuk menghindari penyakit, jin atau pengaruh mata yang jahat. Karena Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari perbuatan itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan bahwa hal itu termasuk syirik kecil, sehingga sudah kewajiban kita untuk harus menghindarinya. 28.
d. Mufti ‘Am Kerajaan Arab Saudi
Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh, pada hari jum’at, tgl. 14 Dzulhijjah 1429 H. Beliau ditanya:
“Wahai Syaikh, ada imunisasi jenis tertentu yg salah satu bahannya adalah babi tetapi setelah diproses bahan tersebut tidak ada, apa hukumnya?”
Syaikh menjawab : ”Hal itu tidak mengapa”
Turut menyaksikan soal jawab tsb Ustadz Anwari Ahmad dan Ustadz Aris Munandar. (ibnuabbaskendari ).
Daftar Referensi
1.Ahkamul-Adwiyah Fi syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan bin ahmad al-Fakki, terbetin Darul-Minhaj, KSA, cet. Pertama 1425H.
2.Al-Mawad al-Muharromah wa Najasah fil Ghidza’wad-Dawa’ kar. Dr. Nazih ahmad, terbitan Darul –Qolam, damaskus, cet. Pertama 1425 H.
3.Fiqih Shoidali Muslimin kar. Dr. Kholid abu Zaid ath-Thomawi, terbitan Dar shuma’i, KSA, cet. Pertama 1428 H
4.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia
5.dan lain-lain
Catatan Kaki :
1.Al-Mawad al-Muharromah wan-Najasah Fil-Ghidza’ wad-Dawa’ kar. Dr. Nazih Hammad hlm. 7-8
2.KBBI Edisi Ke tiga Cetakan ketiga 2005 hlm. 1258.
3.Sumber: medicastore.com. Lihat pula al-Adwa kar. Ali al-Bar hlm. 126, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah kar. Dr. Hasan al-Fakki hlm. 128.
4.Ahkamu Tadawi kar. Ali al-Bar hlm. 22
5.Ibnul-Arobi berkata: “Menurutku bila seorang mengetahui sebab penyakit dan khawatir terkena olehnya, maka boleh baginya untuk membendungnya dengan obat.” (al-Qobas: 3/1129)
6.Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh Ibnu Baz: 6/26
7.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 369
8.Lihat Al-Mawad al-Muharromah wan-Najasah hlm. 16-38, Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187-195, Fiqh Shoidali al-Muslim kar. Dr. Khalid abu Zaid hlm. 72-84.
9.Lihat Hasyiyah Ibni Abidin:1/210
10.Roddul-Mukhtar’: 1/217, al-Muhalla: 7/422
11.al-Majmu’: 2/572 dan al-Mughni: 2/503
12.Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm. 23
13.Sailul-Jarror: 1/52
14.Lihat masalah ini secara luas dalam kitab al-Istihalah wa ahkamuha Fil-Fiqh Islami kar. Dr. Qodhafi ‘Azzat al-Ghonanim.
15.I’lamul-Muwaqqi’in: 1/394
16.Majmu’ Fatawa: 21/508, al-Fatawa al-Kubro: 1.256
17.Al-Fatawa al-Kubro kar. Ibnu Taimiyyah: 1/143, Taqrirul-Qowa’id kar. Ibnu Rojab: 1/173
18.Al-asybah wan-Nazho’ir Ibnu Nujaim hlm. 94 dan al-Asybah wan-Nazho’ir as-Suyuthi hlm. 84
19.Qowa’idul-Ahkam hlm. 141
20.Al-Muwafaqot kar. Asy-Syathibi: 1/231
21.Qowa’idul-Ahkam hlm. 60
22.Syarh Shahih Muslim kar. An-Nawawi: 13/153, Ma’alim Sunan kar. Al-Khoththobi: 4/205
23.Lihat Hasyiyah Ibni Abidin: 4/215, al-Majmu’ kar. An-Nawawi: 9/50, al-Muhalla kar. Ibnu Hazm: 7/426
24.Lihat al-Kafi kar. Ibnu Abdil Barr hlm. 440, 1142, al-Mughni kar. Ibnu Qudamah: 8/605
25.Ahkamul Adwiyah Fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187.
26.Website Majlis Eropa Lil Ifta’wal Buhuts/www.e-cfr.org, dinukil dari kitab Fiqh Shoidali al-Muslim hlm. 107.
27.Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia hlm. 370.
28. Fatawa Syaikh Abdullah bin Baaz**. Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427/2006M. Dikutip dari kitab Al-Fatawa Al-Muta’alliqah bi Ath-Thibbi wa Ahkami Al-Mardha, hal. 203. Darul Muayyad, Riyadh.
[Dirangkum dari beberapa tulisan dan pernyataan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi dg sumber utama tulisan beliau di : Majalah Al Forqan, Edisi 05 Th. ke - 8 1429 H/2008 M]
Tambahan :
Perihal penggunaan bahan haram dalam proses pembuatan obat dan bahan sejenis obat, telah dibahas pula dalam sebuah pertemuan antara WHO dengan pemuka-pemuka agama Negara-negara Arab dan sekitarnya. Berikut salinan pertemuan tersebut.
http://www.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.immunize.org%2Fconcerns%2Fporcine.pdf&h=a4e65
Semoga bermanfaat.
Lagi, paham "sepertinya" dalam menerjemahkan dan menganalisis jurnal.
Katanya "We're excited about this finding because the immune cells in mucosal compartments can cross-talk and traffic between compartments," Permar said. "So the antibodies we found in breast milk indicate that these same antibodies are able to be elicited in other tissues." itu bisa disimpulkan jadi
''SEPERTINYA ASI yang berasal dari ibu HIV negatif juga bisa menghasilkan antibodi tersebut.'' :))
Lah dari mana pula kesimpulan begitu? Ceki-ceki dulu sumbernya Gan! Nih link artikelnya
http://www.dukehealth.org/health_library/news/newly-discovered-breast-milk-antibodies-help-neutralize-hiv
Ini link jurnal aslinya :
http://www.plosone.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pone.0037648
Mau dibaca sampai tahun depan kagak ada kata-kata yang bisa disimpulkan seperti itu. Yang ada malah ini:
1. Di bagian metode : “We isolated B cells from colostrum of an HIV-infected lactating woman with a detectable neutralization response in milk and recombinantly produced and characterized the resulting HIV-1 Envelope (Env)-specific monoclonal antibodies (mAbs).”
>> Yang diambil kolostrumnya adalah IBU MENYUSUI YANG TERINFEKSI HIV. Jadi kagak ada WANITA HIV NEGATIF yang jadi subjek dalam penelitian ini. Nah, kalau gitu kagak bisa dong diambil kesimpulan tentang ibu HIV NEGATIF, kan kagak diteliti?
Atau ada ibu-ibu yang mau diinfeksi HIV secara ALAMI dulu? :))
2. Di bagian diskusi "As most HIV-1 transmission occurs via mucosal barriers, the study of effective mucosal B cell responses is critical to the design of HIV-1 vaccine candidates that will elicit protective antibodies from mucosal B cell populations. " >>Malah dibilang penelitian ini penting sebagai pengembangan VAKSIN HIV-1 Gan! :))
Atau, apa dikiranya 'other tissues' itu diterjemahkan jaringan orang lain yak? :))
Kalau ente baca kalimatnya baek-baek dan ngerti bidang penelitian ini, pasti tahu itu artinya 'jaringan lain' (pada orang yang sama) :))
Kesimpulan : GAGAL PAHAM (maning) #godzillafacepalm#
Rasulullah SAW pernah berpesan:
"Ilmu itu ada tiga bahagian: Kitab yang berbicara, Sunah yang berdiri tegak dan la adri (aku tidak tahu)".(Hadis diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar, hadis marfu').
Asy-Sya'bi berkata, "La adri (Tidak tahu) adalah setengah daripada ilmu.Siapapun yang berdiam diri kepada perkara yang tidak diketahuinya karena Allah taala, maka tidak akan berkurang pahalanya berbanding orang yang berkata-kata dalam keadaan tidak tau/paham, Karena mengaku bodoh adalah perbuatan yang berat bagi seseorang itu."
Untuk yg mengira ulama gak tau ada bahan-bahan najis yg mengalami istihalah dalam proses pembuatan vaksin / tindakan vaksinasi, silahkan liat screenshot ini baik-baik. Ya Gan, bahkan Ulama menggunakan prinsip Evidence Based, bukan testimonial bukan pula mengaku-ngaku "Allah Based Medicine"
Masih mau ngikut ulama atau mau buat fatwa sendiri?
Sumbernya cekidot di sini Gan :
http://www.alifta.net/Search/ResultDetails.aspx?lang=en&view=result&fatwaNum&FatwaNumID&ID=187&searchScope=17&SearchScopeLevels1&SearchScopeLevels2&highLight=1&SearchType=exact&SearchMoesar=false&bookID&LeftVal=0&RightVal=0&simple&SearchCriteria=allwords&PagePath&siteSection=1&searchkeyword=086097099099105110101#firstKeyWordFound
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“
Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (BERKATA TANPA BERDASAR), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta” [HR. Muslim]
Sebenernya ini postingan lama dokter HZ agan2, tapi karena butuh waktu untuk “melacak” sumber aslinya, baru bisa terbongkar sekarang kedustaan dokter kita yang satu ini.
Jadi ceritanya, si oknum dokter ini posting2 dengan meng-aplot dua gambar grafik yg menunjukkan bahwa wabah mumps (=gondong) dan chickenpox (=varicella atau cacar air) justru mayoritas terjadi pd anak2 yg divaksin gan, masing2 92 dan 86 persen. Nggak maen2 gan, di gambar itu disertakan juga “bukti shahihnya” dari “Center for Disease Control MMWR 55(20) May 26, tahun 2006, pp. 559-63” (utk grafik mumps) dan jurnal terkenal “Pediatrics vol. 113, no. 3, pp. 455-459, tahun 2004” (utk grafik chickenpox). Lihat yg dikasih kotak merah. Kayaknya gambar ini diambil dari file presentasi HZ yg berjudul "ASI sbg vaksin alami.pptx" yg ada di tabletnya (dari tampilan screen-nya bisa nebak 'kan gan, tablet apa?).
Admin nguplek2 kedua sumber yg disebutkan di atas, g ketemu grafiknya gan. Kan g mungkin dokter HZ “rajin” terus bikin grafik sendiri. Ealaaaahhhhhh,,, ternyata oh ternyata, sumber inspirasinya terindikasi bukan dari kedua referensi yg disebutkan di grafik, tapi di sini gan (bisa di-donlot langsung pdf-nya):
http://genesgreenbook.com/resources/Natural_Infectious_Disease_Declines_Immunization_Effectiveness.pdf
Itu kalau agan2 buka link-nya, ternyata si HZ ini terinspirasi dari “makalah” karya pentolan antivaks Kanada, pakde Raymond Obomsawin, PhD yg judulnya “Immunization Graphs: Natural Infectious Diseases Decline, Immunization Effectiveness and Immunization Dangers”. Kalau mau kenalan sama pakde Raymond ini, bisa dilihat di sini gan, ada fotonya juga:
http://www.prpeak.com/articles/2012/01/05/news/doc4f0397e64d4d2601828399.txt
Kalau agan2 udah donlot dan lihat makalah sejumlah 30 halaman itu, di halaman 17 agan2 akan nemu gambar yang mirip dgn yg diposting dokter kita ini! Bedanya hanya yg chickenpox (varicella), kalau di sini ditulis 86 dan 14 persen, di makalah pakde Raymond lebih gila lagi gan: 97 persen pd anak divaksin, 3% pada anak yg tidak divaksin. (Nanti dijelaskan darimana munculnya angka2 itu)
Kita bahas dulu makalah pakde Raymond ini gan. Makalah ini isinya menunjukkan kegagalan, ke-tidak-efektif-an dan bahaya2 vaksin dgn disertai “sumber2 rujukan berupa jurnal yg terpercaya”. Bagi orang awam yg gak biasa (dan nggak bisa) ngecek lgsg ke sumber aslinya kayak yg disebutkan pakde Raymond ini, bisa “ketipu” dan jadi antivaks gan. Lha gimana g ketipu, lha wong yg disebutkan aja sumber2 jurnal ilmiah sekelas Lancet, Pediatric, NEJM, de el el. Padahal grafik2 yg dibuat pakde Raymond ini hanya tipu2 alias dusta, mlintir2 isi jurnal untuk mendukung antivaks-nya, atau istilah kerennya “intellectual dishonesty”.
Untunglah, sebagian makalah si Raymond sudah dibongkar kedustaanya di link2 berikut ini gan.
http://scienceblogs.com/insolence/2010/03/29/the-intellectual-dishonesty-of-the-vacci/
http://www.pathguy.com/antiimmu.htm
Kalau agan2 baca 2 link di atas, beliau2 membongkar dan menunjukkan ke publik letak ketidakjujuran alias kedustaan pakde Raymond ini dgn mengecek langsung ke jurnal2 aslinya yg disebutkan pakde Raymond sbgai referensi grafik2 di makalahnya.
Nah, sekarang admin buktikan satu saja kedustaan pakde Raymond yg kemudian diikuti dokter HZ ini yg belum dibahas di dua link di atas. Pada grafik bawah yg bilang wabah chickenpox itu 86%-nya terjadi pd anak2 yg divaksin dgn menyebutkan sumber “Pediatrics vol. 113, no. 3, pp. 455-459, tahun 2004” (yg admin kasih kotak merah di kanan bawah), admin berhasil mendapat jurnal aslinya. Linknya -termasuk full text- ada di sini gan:
http://pediatrics.aappublications.org/content/113/3/455.abstract
Admin tampilkan gambar yg kiri bawah di kotak biru utk dapetin cerita sesungguhnya dari jurnal aslinya sebelum dipelintir sama pakde Raymond dan juga dokter HZ.
Jadi gan, jurnal ini sebenernya ingin melihat efetifitas vaksin varicella yg diberikan sebelum wabah, shga 8 anak di-keluarkan dari analisis karena divaksin saat wabah terjadi. Shg total 414 kasus yg “dicurigai” varicella, lalu dianalisis dan dilacak apakah memang benar varicella atau bukan. Peneliti ingin melihat kasus varicella pd anak2 yg “belum pernah terinfeksi varicella sebelumnya”, baik pd anak yg divaksin maupun yg tidak divaksin karena memang ingin melihat efektifitas vaksinasi varicella. Dari 414 kasus yg dicurigai itu, 218 (52%) anak belum pernah terkena varicella sebelum wabah terjadi shg dianalsis lebih lanjut. Dari 218 anak ini, 211 anak (97%) divaksin sebelum wabah, dan 7 anak (3%) tidak divaksin sebelum wabah. Dari sini, muncullah angka 97 dan 3 persen pada makalah Raymond. Jelas nipu kan gan? Karena 218 kasus itu baru "dicurigai varicella" dan belum bener2 terbukti varicella.
Nah, setelah dilakukan investigasi, yg “benar2 terkena” (= "cases") varicella "hanya" 21 anak, yg tersebar di 9 kelas (affected classrooms), dgn jumlah murid total 159 murid. Nah, dari 21 kasus itu, 18 anak (86%) divaksin, 3 anak (14%) tidak divaksin. Dari sini muncullah angka 86% dan 14% pd grafik dokter HZ (yg belum terlacak dia dapetnya darimana grafik ini). Ya jelas lagi2 ini penipuan gan, sama kayak temennya yg di Kanada itu. Karena kalau disajikan seperti itu datanya, jelas prosentase anak yg divaksin lebih besar, KARENA JUMLAH ABSOLUT ANAK YANG DIVAKSIN JAUHHHHH LEBIH BANYAK (211 vs. 7 anak).
Jalan berfikir ilmiah yg dilandasi kejujuran akan menampilkan data seperti ini (sbgmn yg ditampilkan di jurnal): jumlah total murid di 9 kelas itu ada 159 anak. Dari 159 anak itu, 152 anak divaksin, sedangkan 7 anak tidak divaksin. Dari 152 anak (100%) yg divaksin, 18 anak (12%) terkena varicella. Sedangkan dari 7 anak (100%) yg tidak divaksin, 3 anak (43%) terkena varicella. Sehingga angka kejadian varicella pd ANAK YANG DIVAKSIN sebesar 12%, sedangkan pd anak YANG TIDAK DIVAKSIN sebesar 43%. Lihat beda angka 12% vs. 43%. Dari sinilah disimpulkan bahwa efektifitas vaksin varicella sebesar 72%. Mudahnya, "Kalau ingin melihat efektifitas vaksin, lihatlah perbedaan angka kejadian penyakit tertentu (sesuai vaksinnya) pd kelompok anak yg divaksin dan angka kejadian pd kelompok anak yg tidak divaksin". Orang awam pun akan mudah memahami kok dgn logika sederhana seperti ini.
Lalu penelitinya meng-investigasi lebih lanjut dengan melihat catatan rekam medis dan juga wawancara ke orangtua si anak untuk melacak "kapan" mereka muncul gejala. Hasil investigasi disajikan di figure 2 yg tidak bisa ditampilkan di sini karena tidak muat :)
Ternyata, dari 21 kasus varicella saat wabah, 3 kasus pertama terjadi pada tanggal 30 Oktober 2001 dan mereka adalah 3 anak yg TIDAK DIVAKSIN itu tadi gan! Peneliti sudah berusaha mencari darimana sumber penularan varicella pd 3 anak yg tidak divaksin itu, tapi g ketemu (unidentified). Jadi jelas ya gan, wabah varicella PERTAMA terjadi pd 3 ANAK YANG TIDAK DIVAKSIN, kemudian MENYEBAR pada 18 anak lainnya YANG SEMUANYA DIVAKSIN.
Dari penjelasan ini, jelas ‘kan agan2 tentang kedustaan pakde Raymond yg kemudian diikuti oleh dokter Henny Zainal? (sebenernya admin berat juga sih ngetik kata “dokter” di depan nama HZ). Jadi bagaimana dokter Henny Zainal, masih mau terus-menerus menebar kedustaan dan menipu orang awam yg nggak bisa akses jurnal secara langsung? Dan kalaupun bisa akses, mereka kesulitan memahami karena keterbatasan bahasa Inggris dan sebab2 lainnya? Entah di mana dan kepada siapa Anda presentasikan data2 seperti ini SEBELUM Anda posting di fesbuk Anda?
Tidak takutkah dokter dengan ancaman Allah Ta’ala ini (yang artinya):
”Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta” (QS. An-Nahl : 105)
Dan juga hadits ini,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya kedustaan akan membawa kepada kefajiran (=tidak taat kepada Allah Ta’ala). Dan kefajiran itu akan membawa kepada neraka. Seorang hamba yang berdusta dan terus-menerus berdusta sehingga akan ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR. Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepadanya, dan juga kepada kita semuanya. Amin.
Ih, gitu yah kak HZ, vaksin? autis? tenaga kesehatan? Rebbeca Carley?
Ssst... maaf kak, kalau suatu ketika minie ngatain 'gile ajee' itu maksudnya bercanda aja kak; tapi kali ini minie ciyus kak, bukannya mau ad hominem, tetapi, 'dokter' Rebecca Lee Carley yang dipercaya sama 'dokter' HZ ini sudah dicabut lisensi dokternya karena.. mental disability! gile ajee!
Minie bawakan hasil investigasi dan surat keputusan resmi dari Department of Health New York berikut ini kak. Minie peringatkan, isi investigasi resmi tentang kondisi kejiwaan 'dokter' Rebecca Carley di situ diungkapkan secara eksplisit kak, bagi kakak-kakak yg bukan dokter hati-hati ya, isinya ngeri. Silakan kakak buka pdf di bawah ini:
http://www.ratbags.com/rsoles/ni/history/09/0131carley2.pdf
HZ said, "do not trust your doctor and follow their instruction 100%", tapi percayalah 100% kepada... youtube dari penderita gangguan jiwa
Aduh kak, hari gini masih ada yang ngehubungin vaksin sama autisme? fiuuhh.. capek minnie tepok jidat. Isu kuno buanget tuh kaak, ya ampyuun. Ihh, pake bawa-bawa 'dokter' Rebecca Carley lagi, maksudnya dia sebagai contoh "semakin banyak tenaga kesehatan" yang menolak vaksin gara-gara vaksin bikin autis gitu? Selain omongan ngga jelas dari 'dokter' Rebecca Carley, emang ada gitu kak penelitian ilmiah berbasis populasi yang menunjukkan kalau autisme disebabkan oleh vaksin? mana coba? minnie pengen liat deh..
..emang ngga ada kaan! Maka terimalah tendangan jurnal-jurnal cantik nan ilmiah koleksi minnie yang membuktikan bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme! ..dengan kekuatan bulan akan menghukummu!!
Uno Y, Uchiyama T, Kurosawa M, Aleksic
B, Ozaki N. The combined measles, mumps, and rubella vaccines and the total
number of vaccines are not associated with development of autism spectrum
disorder: the first case-control study in Asia. Vaccine. 2012 Jun 13;30(28):4292-8.
-> The study provides evidence against the association of autism with either MMR or a single measles vaccine.
-> The study provides evidence against the association of autism with either MMR or a single measles vaccine.
Demicheli V, Rivetti A, Debalini MG, Di Pietrantonj C. Vaccines for measles, mumps and rubella in children. Cochrane Database Syst Rev. 2012 Feb 15;2:CD004407.
-> Exposure to the MMR vaccine was unlikely to be associated
with autism, asthma, leukaemia, hay fever, type 1 diabetes, gait disturbance,
Crohn's disease, demyelinating diseases, bacterial or viral infections.
Mrozek-Budzyn D, Kiełtyka A, Majewska R. Lack of association between measles-mumps-rubella vaccination and autism in children: a case-control study. Pediatr Infect Dis J. 2010 May;29(5):397-400.
-> The study provides evidence against the association of
autism with either MMR or a single measles vaccine.
Fombonne E, Zakarian R, Bennett A, Meng L, McLean-Heywood D. Pervasive developmental disorders in Montreal, Quebec, Canada: prevalence and links with immunizations. Pediatrics. 2006 Jul;118(1):e139-50.
-> The findings ruled out an association between pervasive
developmental disorder and either high levels of ethylmercury exposure
comparable with those experienced in the United States in the 1990s or 1- or
2-dose measles-mumps-rubella vaccinations.
Smeeth L, Cook C, Fombonne E, Heavey L, Rodrigues LC, Smith PG, Hall AJ. MMR vaccination and pervasive developmental disorders: a case-control study. Lancet. 2004 Sep 11-17;364(9438):963-9.
-> Our findings suggest that MMR vaccination is not associated
with an increased risk of pervasive developmental disorders
Fombonne E, Chakrabarti S. No evidence for a new variant of measles-mumps-rubella-induced autism. Pediatrics. 2001 Oct;108(4):E58.
-> No evidence was found to support a distinct syndrome of
MMR-induced autism or of "autistic enterocolitis." These results add
to the recent accumulation of large-scale epidemiologic studies that all failed
to support an association between MMR and autism at population level. When
combined, the current findings do not argue for changes in current immunization
programs and recommendations.
Honda H, Shimizu Y, Rutter M. No effect of MMR withdrawal on the incidence of autism: a total population study. J Child Psychol Psychiatry. 2005 Jun;46(6):572-9.
-> The significance of this finding is that MMR vaccination is
most unlikely to be a main cause of ASD, that it cannot explain the rise over
time in the incidence of ASD, and that withdrawal of MMR in countries where it
is still being used cannot be expected to lead to a reduction in the incidence
of ASD.
Taylor B, Miller E, Farrington CP, Petropoulos MC, Favot-Mayaud I, Li J, Waight PA. Autism and measles, mumps, and rubella vaccine: no epidemiological evidence for a causal association. Lancet. 1999 Jun 12;353(9169):2026-9.
-> Our analyses do not support a causal association between MMR
vaccine and autism.
Taylor B, Miller E, Lingam R, Andrews N, Simmons A, Stowe J. Measles, mumps, and rubella vaccination and bowel problems or developmental regression in children with autism: population study. BMJ. 2002 Feb 16;324(7334):393-6.
-> These findings provide no support for an MMR associated
"new variant" form of autism with developmental regression and bowel
problems, and further evidence against involvement of MMR vaccine in the
initiation of autism.
Madsen KM, Hviid A, Vestergaard M, Schendel D, Wohlfahrt J, Thorsen P, Olsen J, Melbye M. A population-based study of measles, mumps, and rubella vaccination and autism. N Engl J Med. 2002 Nov 7;347(19):1477-82.
-> This study provides strong evidence against the hypothesis
that MMR vaccination causes autism.
Baird G, Pickles A, Simonoff E, Charman T, Sullivan P, Chandler S, Loucas T, Meldrum D, Afzal M, Thomas B, Jin L, Brown D. Measles vaccination and antibody response in autism spectrum disorders. Arch Dis Child. 2008 Oct;93(10):832-7.
-> No association between measles vaccination and ASD was
shown.
Lihat kak, percayalah, kalau dokter beneran bilang autis ngga ada hubungannya sama vaksin, artinya dia membaca dan mengerti jurnal-jurnal di atas serta konsep evidence based medicine secara beneran pula.
Ada tamu admin di Facebook yang bikin pernyataan lucu nih, padahal DOKTER lho ...
Katanya “imun pada dasarnya sehat, tapi kenapa banyak penyakit autoimun (misal lupus) muncul di tahun 70-an, setelah boomingnya vaksin? Dan menggunakan kata IDIOPATIK sebagai kambing hitam. Gak mungkin kan Allah menurunkan penyakit tanpa sebab. Allah gak mungkin menzalimi hambaNya, tapi manusia yang menzalimi dirinya sendiri.”
Wekekekekek… Masak sih penyakit autoimun muncul pada tahun 70-an??? Ini ada sebuah kisah yang menarik mengenai penemuan konsep dan penyakit autoimun. Judulnya “Travels and travails of autoimmunity: A historical journey from discovery
to rediscovery” (terjemahan: "Perjalanan dan perjuangan dari autoimunitas: Sebuah perjalanan sejarah dari awal penemuan sampai penemuan kembali"). Yang menyusun Ian R. Mackay dan diterbitkan melalui Elsevier (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1568997209001761).
Di dalam tulisan itu, disebutkan bahwa ide mengenai adanya proses autoimun sudah ada sejak tahun 1904 saat Julius Donath dan Karl Landsteiner melaporkan tiga orang pasien dengan darah dan protein dalam kencingnya dan tubuhnya memiliki antibodi yang, dalam suhu dingin, bisa menghancurkan sel darah merah mereka sendiri, suatu indikasi adanya suatu autohemolisin (pssstt... kayaknya yang masuk skrinsyut lupa tentang ini kali yaaaa...)
Pada tahun 1943, Hargraves menemukan efek sel lupus erythematosus (LE), tapi baru dilaporkan pada tahun 1948. Tahun 1940 Erik Waaler melakukan tes Wassermann di Oslo City Hospital, Norwegia dan menemukan reaksi aglutinasi (perlengketan) pada sel-sel domba, padahal harusnya sel-sel tersebut pecah atau lisis. Ternyata donor serum yang dipakai menderita Rheumatoid Arthritis. Reaksi yang sama diamati dan dilaporkan oleh Harry Rose et al. pada tahun 1948 di New York yang melakukan riset terkait penyakit Rickettsia. Komponen serum yang bertanggung jawab pada proses aglutinasi tersebut dinamakan rheumatoid factor (RF).
Akhirnya pada tahun 1964, diselenggarakan International Conference on Autoimmunity — Experimental and Clinical Aspects oleh the New York Academy of Sciences. Pertemuan ilmiah ini menghasilkan 2 volume buku total 980 halaman dengan 77 kontributor yang diterbitkan pada tahun 1965, yang akhirnya membuat masyarakat mengenal adanya penyakit autoimun dan disetujuinya fenomena autoimun sebagai salah satu penyebab penting penyakit pada manusia.
Sel LE sempat menjadi salah satu kriteria diagnosis penyakit Lupus, sementara Rheumatoid Factor masih menjadi salah satu kriteria diagnosis Rheumatoid Arthritis, yang juga merupakan salah satu penyakit autoimun.
Tarik napas dulu Gan, sebentar lagi admin uraikan juga tentang Lupus. Siap?? Meluncur…
Lupus berarti serigala, pertama kali digunakan sebagai istilah dalam bidang kedokteran oleh Rogerius pada tahun 1230, lalu oleh Paracelsus (1493-1541) dan Sennert (1611). Deskripsi tentang penyakit Lupus yang lebih detil diberikan oleh Cazenave 1838, yang bersama koleganya Clausit memperkenalkan penyakit tersebut sebagai ‘lupus erythemateux’ pada tahun 1852. Hebra dan menantunya, Kaposi, kemudian membagi penyakit tersebut sebagai bentuk sistemik, diseminata dan discoid (http://rheumatology.oxfordjournals.org/content/40/7/826.full).
Nah, nah, nah... Ketahuan kan ada yang malas baca, malas bertanya, akhirnya sesat di pemikiran…
Katanya lagi “menggunakan kata IDIOPATIK sebagai kambing hitam”. Itu bukan kambing hitam Gan, tapi sebagai kejujuran bahwa memang ilmu pengetahuan saat ini belum bisa memahami sepenuhnya mengenai mekanisme yang mendasari. Mending JUJUR kan daripada NGARANG… (idiopatik = unknown = belum diketahui)
Terus masih kata yang bersangkutan “Gak mungkin kan Allah menurunkan penyakit tanpa sebab. Allah gak mungkin menzalimi hambaNya, tapi manusia yang menzalimi dirinya sendiri.” SETUJU!!!! Makanya kita disuruh belajar dan terus belajar. Kalau gak tahu, bilang gak tahu jangan NGARANG. Karena sudah sifatnya manusia itu DZALIM dan BODOH, makanya BELAJAR, TANYA DARI SUMBER YANG SHAHIH, biar gak menDZALIMI diri sendiri dan ORANG LAIN. Setuju Gan???!!!!
dikutip dari : http://www.facebook.com/notes/annisa-karnadi/vaksinasi-renungan-panjang-sebuah-kebimbangan/10150909024277548
Q: Apakah vaksin menyebabkan kanker?
Sebagai manusia saat kita mendengar kata “kanker” tentu saja takut ya, karena langsung terbayang penyakit yang berat.
Kanker telah lama dikenal dalam sejarah manusia. Kanker payudara telah tercatat di lembaran papirus bangsa Mesir pada tahun 3000 SM. Hippocrates yang hidup pada tahun 460 – 370 SM juga telah menjelaskan tentang penyakit ini. Celcus, ilmuwan Yunani, yang hidup antara tahun 25 SM – 50 M juga telah membuat catatan tentang kanker. Istilah kanker sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepiting. Insidensi (kejadian) kanker sendiri meningkat semakin banyak pada tahun 1930 – 1990. Kematian dengan penyebab kanker yang cukup banyak ini akhirnya mulai dicatat secara khusus oleh biro statistika Amerika Serikat pada tahun 1930.
Vaksinasi sendiri baru digalakkan oleh WHO pada 1 Januari 1967 untuk menanggulangi wabah cacar variola (smallpox) yang menyebabkan kematian 35% penderita cacar variola dan sisanya buta atau mengalami kerusakan kulit yang sangat parah. Nah, sangatlah tidak mungkin vaksinasi menyebabkan kanker karena kanker sudah banyak bermunculan ribuan tahun sebelum program vaksinasi digalakkan di dunia.
Kanker sendiri penyebabnya ada dua, yaitu genetik (faktor bawaan) dan lingkungan. Faktor lingkungan sendiri salah satunya adalah infeksi. Justru vaksinasi terbukti bisa menyelamatkan dari kanker, seperti vaksinasi hepatitis B sesaat setelah bayi baru lahir akan mencegah terjadinya kanker hati saat bayi dewasa. Infeksi virus hepatitis B yang diderita sejak bayi 90% akan mengakibatkan hepatitis kronis yang merupakan penyebab terjadinya sirosis. Sebanyak 50% kasus sirosis akan berkembang menjadi kanker ganas pada liver.
Pada tahun 2012, di depan konferensi asosiasi peneliti kanker Amerika dipresentasikan makalah yang sangat menarik tentang pemberian vaksin pada anak dengan kanker otak ganas membantu anak memberikan respons bagus terhadap perbaikan penyakitnya. Sel imun anak yang mendapat vaksin tampak bereaksi sangat baik terhadap sel kanker di otak. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan isu yang mengatakan vaksin mengakibatkan kanker, karena justru yang terjadi adalah vaksin membantu sel imun memusnahkan sel kanker.
Sumber:
Kumar et al. 2008. Robbins Basic Pathology, 8th edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
Fauci et al. 2008. Harrisons: Principples of Internal Medicine, 17th edition. McGraw-Hills companies
Goldman et al. 2007. Cecil Medicine, 23th Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
Casiato, Dennis A. 2004. Manual of Clinical Oncology, 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Q: Benarkah vaksin menyebabkan HIV?
HIV adalah penyakit yang snagat mengerikan. Pada tahun 1981 saat pertama kali ditemukan penyakit HIV AIDS pada kaum homoseksual kemudian pecandu penyalahgunaan obat, orang bertanya-tanya darimanakah asal penyakit yang mengerikan ini. Banyak isu spekulatif seputaran penyakit ini dan pada tahun 1990-an salah satu yang dicurigai adalah vaksin polio oral sebagai penyebar penyakit ini. Pada tahun 1950-an para ilmuwan mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk memperoleh media pertumbuhan virus. Salah satunya dr. Hilary Koprowski yang mengembangkan cell line berasal dari kera macaque. Cell line tersebut diduga tercemar oleh virus SIV (simian immunodeficiency virus) yaitu virus menyerang simpanse.
Pada tahun 1992 majalah The Rolling Stone menampilkan artikel yang mendiskusikan kemungkinan vaksin polio Koprowski sebagai sumber penyebaran HIV yang akhirnya mengakibatkan munculnya AIDS. Dokter Koprowski menggugat The Rolling Stone dan si penulis artikel sehingga pada December 1993, majalah The Rolling Stone membuat permintaan maaf dan klarifikasi atas pemberitaan tidak benar yang mencemarkan nama dokter Koprowski.
Artikel tersebut bermula dari seorang jurnalis yang bernama Edward Hooper menulis sebuah buku yang berjudul “The River: A Journey to the Source of HIV and AIDS” pada tahun 1999. Hooper menuduh bahwa cell line yang digunakan untuk pengembangan vaksin polio itu berasal dari sel ginjal simpanse yang terinfeksi SIV. Untuk meredam kehebohan yang terjadi, dilakukanlah penyelidikan yang mendalam dan hasilnya dibuktikan bahwa teori Hooper ini tidak benar:
1. Dilakukan pemeriksaan terhadap sisa vaksin yang digunakan dan tidak terbukti adanya kontaminasi virus SIV pada vaksin.
2.Cell line yang digunakan untuk memproduksi vaksin berasal dari kera, bukan simpanse. Spesiesnya asal cell line-nya saja jelas berbeda. Setiap virus memiliki sel target yang spesifik. Beda spesies berbeda jenis selnya sehingga si virus SIV tidak bisa menginfeksi sel tersebut.
3.Strain virus SIV ini secara genetika sangat berbeda dengan strain virus HIV yang terdapat di daerah tersebut.
Tulisan Hooper ini menyebabkan maraknya teori konspirasi terkait HIV dan vaksin polio, terutama di Afrika. Isu adanya virus HIV dan obat yang mengakibatkan steril pada vaksin polio menyebabkan banyak yang menolak vaksinasi polio di Afrika. Akibatnya kejadian polio di Afrika tetap tinggi.
Ada 2 jenis virus HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2, yang paling banyak ditemui di seluruh dunia adalah virus HIV-1. Virus HIV-2 banyak ditemukan di Afrika. Virus HIV ini memang diperkirakan berkembang dari virus yang dahulunya menginfeksi simpanse (cross-species infection). Kemungkinan terjadinya infeksi silang antar-spesies karena telah terjadi kontak langsung antara manusia dengan simpanse yang terinfeksi yang menghasilkan mutasi genetik munculnya virus HIV.
Sumber:
Fauci et al. 2008. Harrisons: Principples of Internal Medicine, 17th edition. McGraw-Hills companies
Brooks et al. 2007. Jawetz, Melnick & Adelberg Medical Microbiology. 24th edition. McGraw-Hills companies.
Fields et al. 2001. Field’s Virology. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins.
Q: Benarkah vaksin adalah konspirasi Yahudi untuk melumpuhkan generasi lain? Benarkah vaksin digunakan sebagai senjata biologis pemusnahan massal?
Sejak WHO mencanangkan program imunisasi untuk eradikasi penyakit infeksi berbahaya hampir semua negara mewajibkan imunisasi untuk semua bayi yang lahir di daerahnya. Ada 194 negara yang memiliki program imunisasi. Beberapa negara menggunakan kelengkapan jadwal imunisasi sebagai persyaratan masuk sekolah. Di Arab Saudi dan beberapa negara timur tengah kelengkapan imunisasi dijadikan syarat untuk bersekolah dan mengambil akta kelahiran.
Program imunisasi wajib di masing-masing negara berbeda bergantung pada sebaran penyakit yang ada. Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, vaksin BCG tidak ada karena mereka telah berhasil mengeradikasi TBC sebelum arus globalisasi meningkat seperti dewasa ini. Di Belanda memang aturan diperlonggar dengan alasan menghormati hak asasi para penganut anti-vaksin. Di Inggris jika anak yang tidak divaksinasi sakit dan menularkan penyakit ke teman-teman mereka di sekolah maka orang tua si anak akan dipenjara.
Lalu apa kabar negara yahudi israel yang sering dituduh makar vaksinasi? Israel memiliki program vaksinasi yang sangat lengkap dan berhasil dengan angka cakupan sangat tinggi untuk bayi baru lahir hingga anak usia 13 tahun. Dari artikel yang dibuat oleh Kementrian Kesehatan dan dirilis di jurnal ini diperoleh data cakupan imunisasi di israel > 90% semua, yaitu sebagai berikut DTaP-IPV-Hib4 (all 93%), HBV3 (96%), MMR1 (94%), and HAV1 (90%). Sebanyak 93% bayi mendapat vaksin difteri, tetanus, pertusis, polio dan hemofilus influenzae B; sebanyak 96% bayi mendapat vaksin hepatitis B; sebanyak 94% bayi mendapat vaksin campak, gondongan dan rubella; dan sebanyak 90% bayi mendapat vaksin hepatitis A. Pada tahun 2009 mereka memulai program vaksinasi pneumokokus, pada tahun 2010 mereka memulai vaksinasi rotavirus dan pada tahun 2011 mereka memulai vaksinasi human papilloma virus untuk anti kanker leher rahim (serviks). Kenapa angkanya tidak 100%? Karena pada bayi dengan penyakit tertentu seperti defisiensi sistem imunitas, kanker atau penyakit darah ada yang sebaiknya vaksinasi ditunda terlebih dahulu.
Jika vaksin mengandung racun, zat berbahaya dan berpotensi membuat mandul, cacat atau mematikan generasi penerus, maka tidak akan mungkin israel menyediakan program vaksinasi yang super lengkap seperti di atas untuk semua bayi sehat yang lahir di negara tersebut. Kabar baiknya adalah pejuang Muslim Palestina juga memvaksin anak-anaknya agar tumbuh menjadi generasi yang sehat tidak kalah dengan bayi-bayi yahudi di Israel. Muslim Mesir tanah tempat kelahiran pejuang-pejuang tangguh yang berani menolong saudaranya di Gaza juga memiliki vaksin wajib yang ditaati oleh warga negaranya.
Jika di dalam vaksin terdapat obat kemandulan buktinya yang terjadi di Indonesia, negara-negara berkembang dan dunia jumlah penduduk bertambah dengan pesat.
Sumber:
Vaksinasi di israel:
Vaksinasi di Palestina: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19554974
Vaksinasi di Mesir: http://apps.who.int/immunization_monitoring/en/globalsummary/countryprofileresult.cfm?C=egy
Vaksinasi di Saudi Arabia: http://apps.who.int/immunization_monitoring/en/globalsummary/countryprofileresult.cfm
Vaksinasi di Amerika:
Vaksinasi di Inggris:
Q: Apakah vaksin menyebabkan anak lumpuh dan meninggal setelah divaksin?
KIPI adalah kejadian ikutan pasca imunisasi. Biasanya setelah diimunisasi bisa timbul demam, kemerahan atau bengkak di tempat penyuntikan, rewel, dan lain sebagainya sesuai jenis vaksin. Sebagian besar keluhan ini akan menghilang 3 – 4 hari pasca imunisasi. Semua KIPI memang sebaiknya dilaporkan untuk kepentingan surveilans imunisasi.
KIPI berat seperti lumpuh setelah diimunisasi atau meninggal setelah diimunisasi akan diselidiki dengan sangat serius oleh dinas kesehatan dan pihak yang berwajib dengan melibatkan banyak ahli seperti ahli forensik, ahli darah, ahli bedah, ahli anak, ahli penyakit dalam, ahli vaksin, ahli hukum, kepolisian dan banyak ahli lainnya. Tenaga kesehatan yang terlibat juga dikenai status tahanan rumah atau kota. Kasus ini biasanya akan mencuat di media massa yang tentu saja dengan pemberitaan yang tidak seimbang, selalu pihak pemerintah yang disudutkan. Sangat sering kasus yang ada tidak disertai dengan pemberitaan klarifikasi dari dinas kesehatan terkait.
Contoh kasus berikut ini, bayi A meninggal sehari setelah vaksin BCG, setelah diselidiki ternyata bayi sudah sakit infeksi berat sebelumnya dan meninggal akibat sepsis (keracunan darah), tapi jika membaca beritanya memang sangat berat sebelah. Kisah lain, yaitu SB yang lumpuh setelah divaksin polio setelah disidang di Polda Metro Jaya lalu diselidiki ternyata SB ini adalah penderita TBC tulang belakang yang sudah berat. Di Jawa Barat anak lumpuh karena polio setelah diselidiki ternyata dia terkena virus polio liar, bukan virus polio dari vaksin. Sebagian besar kasus KIPI yang dilaporkan bisa ditangani secara tuntas, hanya saja masyarakat tidak mengikuti kasus hingga akhir. Jika ada yang tidak ditangani, maka kemungkinan besar karena kasus tidak dilaporkan.
Kasus KIPI perlu diselidiki apakah itu disebabkan karena vaksinasi atau coincidental. Concidental ini adalah berbarengan ditakdirkan muncul bersamaan dengan vaksinasi, seperti contoh ketiga kasus di atas yang seteah diselidiki ternyata penyebabnya adalah karena penyakit lain. Jika karena vaksinasi, maka akan diselidiki apakah karena kesalahan dalam vaksin (vaccine error), kesalahan pelaksanaan imunisasi (programme error), atau reaksi terkait penyuntikan.
Semua kasus KIPI akan mendapatkan penanganan dan kompensasi dari pemerintah, orang tua bisa menuntut negara atas kejadian ini. KIPI vaksin polio oral yang paling berat adalah kelumpuhan (paralisis), kejadiannya 1 : 2,5 juta – 3 juta dosis. Kasus ini biasanya terjadi pada anak dengan penyakit kelainan darah dan gangguan berupa kelemahan imunitas tubuh. Adalah John Salamone, seorang orang tua yang luar biasa dari seorang anak yang terkena KIPI vaksin polio oral. Anaknya mengalami sindroma paralisis setelah mendapat vaksin polio, namun alih-alih memilih menjadi aktivis gerakan antivaksin beliau lebih memilih untuk mendorong pemerintah (American Academy of Pediatrics dan the CDC) untuk mengganti vaksin polio oral dengan vaksin polio injeksi. Dan beliau berhasil, pada tahun 1996 pemerintah Amerika mengganti vaksin polio dengan jenis lain yang lebih aman meskipun itu berarti pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih besar untuk vaksin ini. Sebab John menyadari bahwa vaksin polio ini penting dan perlu, apalagi virus poliomyelitis belum musnah (eradikasi). Jika terjadi wabah polio kemungkinan lumpuh adalah 1:100 penderita dan tidak milih-milih mau anak yang semula sehat atau yang immunocompromaise (sistem imunnya lemah).
Kejadian KIPI yang berbahaya ini relatif sedikit, dan tidak ada orang yang menginginkannya. Apalagi pihak tenaga kesehatan, jika sampai terjadi KIPI berat mereka juga akan diusut oleh pihak berwajib. Dibandingkan resiko tingkat kecacatan, biaya perawatan dan kematian yang tinggi akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin maka sebaiknya tetap melakukan vaksinasi yang merupakan salah satu ikhtiar terbaik untuk menghindari penyakit tersebut.
Sumber:
Q: Benarkah vaksin akan merusak sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit?
Isu ini berkembang akibat adanya suntikan vaksin combo, yaitu dalam 1 suntikan terdapat > 2 jenis antigen (vaksin).
Beberapa pihak menantang untuk diadakan penelitian yang membandingkan kualitas anak yang divaksin dengan anak yang tidak divaksin. Jika ada dua kelompok anak (divaksin vs tidak divaksin) kemudian ditempatkan di ruangan dengan penyakit polio, TBC, pertusis, difteri, campak, dan lainnya, hal ini tidak etis karena menempatkan posisi anak yang tidak memiliki kekebalan tubuh dalam zona bahaya. Penelitian semacam ini tidak akan pernah lolos mendapatkan ijin dari Komite Etik. Setiap penelitian yang dilakukan seorang akademisi itu wajib dibawah koridor etika keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan dan diawasi oleh Komite Etik yang terdiri dari para ahli.
Namun, ada penelitian yang menarik yang dilakukan di Jerman yang membandingkan kualitas kesehatan anak yang mendapat vaksin dengan anak yang tidak divaksin dengan sampel penelitian 13.453 anak. Penelitian ini diterbitkan di jurnal Deutsches Ärzteblatt International | Dtsch Arztebl Int 2011; 108(7): 99–104. Hasilnya? Ternyata penyakit infeksi yang tidak spesifik seperti batuk pilek dan penyakit alergi kejadiannya sama pada kedua kelompok. Pada kelompok anak yang tidak divaksin terdapat kejadian penyakit infeksi tidak spesifik dan penyakit alergi.
Vaksin adalah ikhtiar untuk membentuk kekebalan spesifik seperti vaksin polio untuk penyakit polio. Pada penelitian tersebut hasilnya ternyata mendukung keamanan vaksin karena anak-anak yang tidak divaksin tiga kali lebih banyak menderita penyakit campak, gondongan, rubella dan pertusis dibandingan anak yang divaksin. Sebagai informasi di Jerman sudah tidak pernah ditemukan kasus lokal TBC dan polio.
Jadi, isu bahwa vaksin merusak sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit itu tidak benar, karena pada anak yang tidak mendapat vaksin pun juga dijumpai kasus infeksi tidak spesifik seperti batuk pilek dan serta penyakit alergi.
Sumber:
Q: Jangan dengarkan nasehat dokter, mereka dibayar sama pabrik vaksin! Benarkah?
Program vaksinasi yang berhasil adalah vaksinasi cacar variola (smallpox). Penyakit ini sangat menular. Penularan penyakit melalui udara pernafasan, jadi tidak perlu bersentuhan dengan penderita sudah bisa tertular. Jika sampai sakit, efek yang paling ringan adalah wajah menjadi buruk rupa permanen; efek moderat adalah hidup dengan wajah buruk rupa + buta; dan sebanyak 30 - 35% penderita variola langsung meninggal dunia.
Hidup di jaman serba susah seperti ini segalanya memang seolah-olah berkiblat pada uang. Memang budaya neokapitalisme telah menjamur berurat berakar dimana-mana, termasuk di fasilitas kesehatan. Bisnis kesehatan adalah bisnis dengan omzet yang besar. Mari kita berhitung, lebih menguntungkan mana sih dokter mau capek-capek sosialisasi pentingnya vaksinasi agar penyakit musnah (eradikasi) seperti smallpox atau merawat pasien yang sakit macam difteri, pertusis, campak, tetanus, TBC, meningitis, polio itu?
Jika dokter berdagang vaksin paling keuntungannya hanya beberapa puluh ribu hingga ratusan ribu.
Jika dapat pasien difteri, pertusis, campak dan lainnya kira-kira untung berapa ya? Pasien ini adalah kategori pasien sangat menular sehingga harus dirawat di ruang khusus, dengan barang-barang sekali pakai termasuk kasur, bantal, selimut; dengan perawat khusus, belum lagi obat-obatan dan diet khusus. Pasien difteri atau pertusis biasanya dirawat selama 2 minggu. Biaya perawatan sehari bisa mencapai minimal 2 juta, jadi 2 juta x 14 hari = 28 juta! Pernah ada pasien difteri sehari habis 2,5 juta dan dirawat 2 minggu. Dokter dan nakes yang merawat pasien infeksius seperti di balai pengobatan penyakit paru atau rumah sakit khusus infeksi biasanya mendapatkan komisi tambahan sebagai pengganti risiko tertular.
Pasien tetanus dan meningitis biasanya dirawat di Intensive Care Unit. Dulu bayi saya waktu lahir kakinya agak kebiruan sehingga dirawat di NICU. Di NICU bayar 3 juta/hari, itupun Al hamdu lillah bayi saya hanya nebeng pake oksigen. Nah, pasien tetanus dan meningitis bisa lebih dari 1 bulan perawatannya, obat-obatan yang digunakan luar biasa mahal. Jika sembuh dalam 1 bulan saja, maka 3 juta x 30 hari = 90 juta!
Pasien polio lebih parah lagi, selain di rawat secara intensive di ruang isolasi mereka harus rajin fisioterapi agar kelumpuhan yang di derita tidak begitu parah dan kaki mereka tidak bengkok. Asumsi perawatan seperti pasien difteri 2 juta x 14 hari = 28 juta ditambah biaya fisioterapi rutin yang sekali fisioterapi 100 ribu minimal 1 kali seminggu dan pembelian peralatan fisioterapi hingga 1 tahun, berapa kira-kira dana yang diberikan ke rumah sakit?
Pasien hepatitis B jika sampai terjadi hepatitis kronis harus konsumsi obat secara rutin hingga DNA virus hepatitis B menurun, 1 butir obatnya jaman saya masih sekolah dulu harganya 200 ribu. Jika terkena sirosis seperti pak mentri harus cangkok liver di China konon membutuhkan dana 2 milyar. Jika terkena kanker hati, kemungkinan tertolong kecil karena hepatocellular carcinoma ini sangat ganas. Kanker hati akibat bayi terlahir dari ibu yang positif hepatitis B biasanya akan muncul saat anak berusia 20-an tahun.
Untuk pabrik vaksin? Jika program vaksinasi berhasil seperti program vaksinasi smallpox dari tahun 1967 – 1979 menghasilkan smallpox yang musnah (eradikasi), vaksin smallpox tidak dibutuhkan lagi jadi perusahaan vaksin gulung tikar. Untuk saat ini wabah polio, difteri, campak, pertusis muncul lagi akibat aksi menolak vaksinasi yang marak di beberapa daerah. Jadi bisa dipastikan perusahaan vaksin akan tetap berproduksi hingga 20 tahun ke depan. Jika terjadi wabah seperti polio di Jawa Barat tahun 2005 kemarin dan tetanus saat gempa Jogja yang lalu perusahaan vaksin kembali banjir order untuk vaksinasi tambahan, maka semakin banyak penyakit semakin untung bagi pabrik vaksin. Tapi, jika penyakit musnah maka vaksin tidak diproduksi lagi sehingga perusahaan rugi besar.
Jadi, bagi perusahaan vaksin dan dokter kira-kira lebih untung yang mana ya?
Q: Buat apa vaksinasi, toh wabah sudah tidak pernah terjadi lagi
Wabah sudah ada dari jaman dahulu, pada masa Rosululloh pun juga terjadi wabah oleh karena itu ada hadits berkenaan dengan wabah dan penyakit menular. Sahabat agung Abu Ubaidah ibnul jarrah, meninggal karena wabah tha'un di syam. Beliau kita yakin pasti menjaga diri, baik makanan yang tahyyib dan halal, zaman itu belum ada MSG dan pengawet dan amalnya insyaAllah baik karena beliau adalah "amin hadzihil ummah"/ kepercayaan umat ini dan telah di jamin masuk surga.
Vaksinasi, sebagaimana teknologi buatan manusia lainnya, memang tidak 100% aman dan 100% efektif. Namun hingga saat ini vaksinasi adalah teknologi di dunia kesehatan yang terbaik sebagai ikhtiar untuk memusnahkan (eradikasi) penyakit infeksi.
Fungsi vaksinasi untuk individu adalah membentuk sel memori spesifik (polio ya untuk polio) yang berumur panjang. Sel memori ini fungsinya sebagai provokator, jika suatu saat ada musuh masuk dia akan memprovokatori kerja sistem imun dan membentuk antibodi dalam waktu jauh lebih cepat daripada anak yang tidak memiliki sel memori. Kebetulan musuh-musuhnya itu jenis kuman yang ganas, yang jika tidak segera ada antibodi mereka akan memporakporandakan tubuh. Saat kita beri sel memori melalui vaksinasi ibaratnya kita bekali anak kita yang mau maju perang dengan detektor musuh dan rudal jelajah, tentu saat perang akan lebih menang daripada anak yang telanjang tangan (tidak bersenjata-red). Jadi saat wabah datang anak yang divaksinasi lengkap sesuai jadwal dan booster biasanya akan tidak sakit, jika sakit pun hanya gejala ringan.
Fungsi vaksinasi untuk masyarakat adalah membentuk kekebalan imunitas (herd immunity) dan pemusnahan kuman (eradikasi). Cacar variola dinyatakan musnah pada tahun 1980 karena 67% penduduk di seluruh dunia mau divaksin variola. Vaksinasi bukanlah teknologi dengan jaminan 100%, oleh sebab itu, cakupan vaksinasi diharapkan > 90% artinya harus lebih 90% warga mau divaksin agar tercapai kekebalan komunitas sehingga penyakit bisa musnah (eradikasi).
Benarkah saat ini wabah sudah tidak ada? Karena banyaknya provokasi isu menakutkan tentang vaksinasi, banyak orang memutuskan untuk tidak memvaksin anak-anaknya sehingga herd immunity rusak. Saat ini banyak wabah kembali bermunculan. Bahkan Bordatella pertusis pun bangkit dari kuburnya.
Pada tahun 2005, sebanyak 302 anak-anak Indonesia yang belum divaksinasi lumpuh akibat terserang virus polio. Selama 10 tahun sebelumnya kasus polio sudah tidak ditemukan lagi di Indonesia, namun kemudian muncul KLB di Jawa Barat.
Sepanjang tahun 2011 ini jumlah kasus difteri yang terjadi di Jawa Timur ada sekitar 328 orang dan yang meninggal jumlahnya 11 orang. Diduga wabah ini terjadi karena banyak bayi yang tidak mendapatkan imunisasi DPT (difteri, pertusis/batuk rejan dan tetanus). Dari penyelidikan yang terkena adalah anak yang belum divaksinasi dan anak yang divaksin namun tidak lengkap. Jadi karena isu menakutkan terkait vaksinasi banyak orang tua yang tidak meneruskan pemberian vaksin ke anak. Jika vaksinasi tidak lengkap tentu saja perlindungannya pun tidak terbentuk optimal.
Indonesia terletak di ring of fire (cincin gunung api aktif) dan pertemuan 3 lempeng benua, masih teringat jelas kejadian tsunami Aceh dan gempa Jogja-Jateng lalu. Sistem penanggulangan bencana belum siap untuk mengatasi bencana saat itu. Di Jogja ribuan orang meninggal dan sangat banyak yang terluka seperti kulit dan daging terkoyak atau patah tulang. Saat itu rumah sakit setempat yang juga porak-poranda terkena dampak gempa kehabisan cairan antiseptik dan benang untuk menjahit sehingga pasien terpaksa dijahit menggunakan benang jahit pakaian. Banyak tetanus yang terjadi, terutama kelompok usia lanjut yang belum pernah mendapat vaksin tetanus. Mereka saat itu meninggal bukan karena gempa melainkan karena tetanus pasca terluka akibat gempa. Saat itu guna mencegah perluasan kasus tetanus Menkes mengirim 400.000 vaksin tetanus ke Jogja dan sekitarnya. Begitu sering bencana alam besar melanda negri indah ini, jadi kita sama sekali tidak tahu apa yang terjadi nanti.
Jangan terkecoh dengan berita-berita menakutkan, dunia semakin tua dan permasalahan jaman semakin pelik. Banyak pihak demi kepentingan pribadi menggunakan kampanye hitam anti-vaksinasi. Gerakan ini mendunia. Kenapa vaksin yang dijadikan kambing hitam? Menurut teori konspirasi ala saya yang maniak komik detektif ini (halah), selama ini timbul persepsi berlebihan di masyarakat bahwa vaksin akan “memberi perlindungan seumur hidup”. Nah, jika vaksin digembar-gemborkan mengandung bahaya bagi kemanusiaan maka otomatis para orang tua akan menolak vaksin. Orang tua akan galau, mereka butuh “sesuatu-pengganti-vaksin” yang akan memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka. Kemudian tiba-tiba ada yang muncul menawarkan solusi pake ini, pake itu, beli ini, beli itu, pelatihan begini, pelatihan begitu dan lain sebagainya.
Kesimpulannya:
Vaksinasi itu mubah dalam agama Islam dan sangat dianjurkan oleh pemerintah dan WHO.
Tidak vaksinasi juga boleh.
Namun, tidak vaksinasi lalu menjadi provokator menakut-nakuti masyarakat awam dengan ilmu yang salah itu yang tidak benar.
Al hamdu lillah, tuntas sudah kebimbangan kami. Semoga ringkasan yang panjang dari data-data yang telah kami peroleh ini bisa membantu para orang tua yang juga bimbang seperti kami.
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisa: 83]
Tafsir ayat di atas:
“Ini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas] tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikan perkara tersebut kepada Rasulullah dan [pemerintah] yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuwan, peneliti, penasehat, dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya] atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya. [Taisir Karimir Rahman hal. 170, Daru Ibnu Hazm, Beirut, cetakan pertama, 1424 H]
Allaahu a'lam bish-showwab








